Sanggar Seni Ranggon Pentaskan “Mawar” di Seminar Nasional BEM FAIPG, Gaungkan Dukungan bagi Korban Kekerasan Seksual
Sanggar Seni Ranggon menampilkan pementasan teater bertajuk Mawar dalam rangkaian Seminar Nasional Akademik dan Edukasi bertemakan "Keadilan yang Memulihkan: Menata Ulang Fondasi Moral Pencegahan Kekerasan Seksual di Lingkungan Masyarakat dan Dunia Pendidikan" yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA). Pementasan berlangsung di Aula Gedung C UNIDA Bogor, Rabu (3/6).
Disutradarai oleh Surya dan diperankan oleh Haura sebagai tokoh utama, Mawar mengisahkan perjuangan seorang korban kekerasan seksual yang harus menghadapi tekanan sosial, intimidasi, serta keterbatasan ruang aman untuk menyampaikan pengalaman dan luka yang dialaminya.
Melalui alur cerita yang emosional, pementasan ini menggambarkan bahwa korban kekerasan seksual kerap menghadapi tantangan yang lebih luas dari sekadar trauma akibat peristiwa yang dialami. Stigma, penghakiman, hingga minimnya dukungan dari lingkungan sekitar sering kali menjadi beban tambahan dalam proses pemulihan korban.
Sutradara pementasan, Surya, mengatakan bahwa teater menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan sosial secara lebih dekat dan menyentuh kepada masyarakat.
“Melalui Mawar, kami ingin mengajak audiens memahami bahwa korban kekerasan seksual membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Terkadang, hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan mereka dengan empati,” ujarnya.
Pementasan mendapat respons positif dari para peserta seminar. Sejumlah penonton terlihat larut dalam alur cerita yang disajikan para pemeran, bahkan beberapa di antaranya tampak meneteskan air mata saat menyaksikan adegan yang menggambarkan perjuangan korban dalam mencari keadilan dan pemulihan.
Ketua Umum Sanggar Seni Ranggon, Angga Sentosa Wijaya, berharap pementasan Mawar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan berpihak kepada korban kekerasan seksual.
“Melalui pementasan Mawar, Sanggar Seni Ranggon berharap masyarakat semakin memiliki kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan berpihak kepada korban kekerasan seksual. Pertunjukan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemulihan korban memerlukan dukungan kolektif dari keluarga, teman, institusi pendidikan, dan masyarakat luas,” ungkapnya.