SPHIRIC 2026 FISIP UNIDA Hadirkan Lima Narasumber Internasional, Bahas Transformasi Digital hingga Pariwisata Adil
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik global melalui penyelenggaraan Social, Political, and Humanities International Conference (SPHIRIC) 2026 pada 29 April 2026. Konferensi internasional bertema “Social and Political Transformations for Sustainable Development” ini menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dengan menghadirkan akademisi, peneliti, mahasiswa, serta praktisi dari berbagai belahan dunia.
SPHIRIC 2026 diikuti sebanyak 255 peserta dari 57 institusi dalam dan luar negeri, terdiri atas 241 presenter dan 14 non-presenter, yang menunjukkan tingginya antusiasme akademisi dan peneliti terhadap forum ilmiah internasional. Melalui penyelenggaraannya, FISIP UNIDA turut mendorong lahirnya luaran akademik berupa prosiding internasional, jurnal terakreditasi nasional, serta book chapter terindeks Scopus yang diterbitkan Universiti Putra Malaysia (UPM Press). Kegiatan ini juga terlaksana melalui kolaborasi FISIP UNIDA bersama sembilan institusi co-host, yaitu Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Mathla’ul Anwar Banten, Universitas Pakuan Bogor, Universitas Ibn Khaldun Bogor, Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor, Universitas Lancang Kuning Riau, IISIP YAPIS Biak, Institut Pariwisata Tedja Indonesia Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah Palopo, sebagai bentuk sinergi dalam memperkuat jejaring akademik serta meningkatkan kualitas riset dan publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.
Dekan FISIP UNIDA sekaligus Chairperson of SPHIRIC 2026, Assoc. Prof. Dr. Hj. Rita Rahmawati, M.Si, menyampaikan bahwa SPHIRIC 2026 menjadi langkah nyata dalam memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai pusat kolaborasi dan inovasi akademik.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap terjalin pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan hasil riset yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa konferensi internasional ini juga menjadi kesempatan penting untuk memperluas jejaring kerja sama antara perguruan tinggi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara.
Selain menghadirkan Keynote Speaker, Rector of Universitas Djuanda, Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd., yang membawakan materi “Reimagining Guidance and Counseling Management: A Human Resource Development Approach to Achieve the SDGs,” SPHIRIC 2026 juga menghadirkan lima narasumber internasional yang membahas isu-isu strategis mulai dari transformasi digital, kesehatan mental, demokrasi, hingga pembangunan masyarakat adat berbasis pariwisata berkelanjutan. Kehadiran para pembicara tersebut semakin memperkuat posisi SPHIRIC sebagai forum akademik yang responsif terhadap tantangan global masa kini.
Assoc. Prof. Dr. Rozita Arshad dari School of Government, Universiti Utara Malaysia, dalam materinya yang berjudul "Integrating Entrepreneurship and Public Policy in Urban Development," menegaskan bahwa keterhubungan antara kewirausahaan dan kebijakan publik tidak bisa ditawar lagi.
“Kewirausahaan tidak bisa dilepaskan dari kebijakan publik. Sinergi kedualah yang akan menentukan arah transformasi perkotaan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha mampu menciptakan ekosistem perkotaan yang lebih tanggap terhadap perubahan ekonomi global.
Sementara itu, Prof. Seung Hwan Myeong, Ph.D dari Inha University, Korea Selatan, mengingatkan bahwa transformasi pemerintahan digital tidak akan berhasil hanya dengan mengandalkan teknologi. Dalam materi berjudul "Digital Bureaucracy and Citizen Participation," ia menekankan bahwa kunci keberhasilan justru terletak pada kapasitas organisasi, kepemimpinan yang adaptif, serta keterlibatan aktif warga.
“Transformasi digital birokrasi akan gagal jika tanpa kepemimpinan yang kuat dan partisipasi masyarakat yang nyata. Teknologi hanyalah alat, bukan tujuan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa keterbukaan dan partisipasi warga menjadi fondasi utama tata kelola pemerintahan yang transparan dan efektif di era digital.
Berbeda pendekatan, Prof. Tomoyasu Sano, Ph.D dari Sapporo Gakuin University, Jepang, membawa perspektif psikologi klinis dalam materinya, "Clinical Psychological Considerations for People Who Cannot Adapt to Change: Supporting the Return to Work of Patients with Depression." Ia mengajak semua pihak untuk tidak memandang sebelah mata individu yang sulit beradaptasi dengan perubahan.
“Ketidakmampuan beradaptasi bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari karakter individu yang justru perlu dihormati dan didukung,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa lingkungan kerja yang suportif dan sistem pendampingan sosial sangat menentukan keberhasilan pemulihan pasien depresi pasca cuti sakit.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Lubna Zaheer dari Punjab University, Pakistan, menyoroti peran krusial media dalam menjaga kepercayaan public di tengah derasnya arus informasi dan merebaknya berita palsu,. Dalam materinya, "Media, Democracy and Public Trust," ia menegaskan bahwa media menjadi perekat demokrasi hanya jika mengedepankan kredibilitas dan transparansi.
“Media menjadi perekat demokrasi ketika ia berani jujur dan transparan. Di masa krisis seperti sekarang, kepercayaan publik tidak bisa dibeli, tapi bisa dibangun melalui pemberitaan yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Menurutnya, profesionalisme media dalam menyaring informasi dan melawan misinformasi adalah kunci stabilitas demokrasi.
Terakhir, Dr. Puvaneswaran Kunasekaran dari Universiti Putra Malaysia, yang juga menjabat sebagai Editor in Chief Pertanika Journal of Social Science and Humanities, membawakan materi berjudul "Tourism as a Sustainable Community Development Tool for Indigenous People in Malaysia." Ia membawa perspektif berbeda tentang pariwisata berkelanjutan, dengan menekankan bahwa pariwisata tidak akan pernah berdampak nyata jika masyarakat adat hanya dijadikan objek tontonan tanpa keterlibatan penuh.
“Pariwisata yang adil dan berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika masyarakat adat menjadi pemain utama, bukan sekadar properti di atas panggung,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan aktif komunitas lokal tidak hanya mendatangkan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi benteng terkuat pelestarian identitas budaya.
Seluruh sesi pleno dimoderatori oleh Afmi Apriliani, S.Sos., M.A.P, yang memandu jalannya diskusi akademik secara interaktif dan dinamis. Konferensi juga dilanjutkan dengan sesi paralel yang menghadirkan ratusan presenter dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Melalui penyelenggaraan SPHIRIC 2026, FISIP UNIDA kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif membangun kolaborasi internasional, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta mendorong kontribusi nyata dunia akademik terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia maupun dunia.