The 2nd DGEC 2025, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H Paparkan Krisis Keuangan Digital di Indonesia Dampak Pinjaman Online
Indonesia tengah menghadapi krisis keuangan digital yang kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya penggunaan pinjaman online (pinjol). Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam pemaparan Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H dalam konferensi internasional the 2nd Djuanda Global Economics Conference (DGEC) 2025 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Djuanda (UNIDA) pada Selasa, 18 November 2025.
Dalam paparannya, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H memaparkan risiko finansial, ancaman sosial, serta ketimpangan perlindungan hukum yang muncul akibat maraknya layanan pinjaman digital, baik legal maupun ilegal.
Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H mengungkapkan bahwa hingga Maret 2025, total pembiayaan industri peer-to-peer (P2P) lending telah menembus Rp 80,02 triliun, meningkat 28,7% year-on-year, dengan 18,07 juta pengguna aktif.
“Pertumbuhan ini tidak hanya menunjukkan pesatnya perkembangan industri finansial digital, tetapi juga kerentanan yang mengiringinya,” ujarnya.
Data menunjukkan bahwa kelompok usia 19–34 tahun menyumbang porsi pinjaman terbesar senilai Rp 38,18 triliun. Sementara itu, 54% outstanding loan dipegang oleh perempuan, membuat mereka menjadi target paling rentan terhadap intimidasi, pelecehan verbal, hingga kekerasan psikologis.
Menurut catatan LBH Jakarta, 62% pengaduan pinjol ilegal sepanjang 2018–2024 berasal dari perempuan. Banyak dari mereka mengalami ancaman, penyebaran data pribadi, dan teror ke kontak telepon yang mana ini merupakan praktik penagihan tidak sesuai hukum.
Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H juga menyoroti kasus-kasus nyata yang dialami masyarakat. Salah satunya dialami Kasiyatun, yang meski telah melunasi pinjaman Rp 1,2 juta dengan pembayaran Rp 1,5 juta, tetap menerima teror selama dua bulan. Kontak pribadinya disebarkan dan ia difitnah sebagai “penipu”.
Ada pula kasus “Dana”, korban yang terjebak spiral utang hingga mencapai Rp 500 juta di 27 platform berbeda akibat tekanan algoritma yang mendorong peminjaman berulang.
“Situasi seperti ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengeksploitasi perilaku manusia dan menjerumuskan mereka dalam siklus utang yang tak berujung,” jelas Prof. Martin.
Dalam forum the 2nd DGEC 2025 ini, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H menegaskan bahwa maraknya pinjaman online bukan hanya isu individu, tetapi telah menjadi potensi ancaman nasional. Ekspansi industri yang agresif meningkatkan risiko kenaikan kredit macet yang dapat mengganggu stabilitas keuangan negara.
“Ketika generasi produktif menjadi kelompok paling banyak berutang, dampaknya bukan hanya pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga pada struktur ekonomi nasional,” paparnya.
Sebagai rekomendasi, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H menekankan urgensi penguatan regulasi oleh pemerintah dan OJK untuk menindak tegas praktik pinjol ilegal. Selain itu, ia menekankan pentingnya program literasi keuangan khusus bagi kelompok muda hingga masyarakat yang rentan digital dan ekonomi. Ia juga mendorong adanya skema pendampingan dan rehabilitasi psikologis bagi korban teror pinjol.
Di akhir pemaparannya, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H mengingatkan bahwa gaya hidup konsumtif menjadi salah satu pintu terbesar jeratan pinjol dan judi online.
“Semoga Allah melindungi kita dari kehidupan konsumtif yang merupakan mangsa paling empuk dari pinjol dan judol,” tutupnya.
Sebagai informasi, pelaksanaan the 2nd DGEC 2025 diselenggarakan secara virtual dengan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Selain Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H, narasumber yang turut dihadirkan antara lain Prof. Dr. Sri Harini, Dra., M.Si (Dekan FEB UNIDA), Assoc. Prof. Dr. Masturah Ma’in (Universiti Teknologi MARA, Malaysia), Prof. Dr. Tulus Suryanto, M.M., Akt., C.A (UIN Raden Intan Lampung), serta Prof. Dr. Alvaro Rocha (University of Lisbon, Portugal). Adapun acara dimoderatori oleh dosen FEB UNIDA, Mas Nur Mukmin, S.E., M.Ak.
Sebagai informasi, The 2nd DGEC 2025 diselenggarakan secara virtual dan diikuti ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Selain Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H, konferensi ini juga menghadirkan narasumber lainnya, yaitu Prof. Dr. Sri Harini, Dra., M.Si (Dekan FEB UNIDA), Assoc. Prof. Dr. Masturah Ma’in (Universiti Teknologi MARA, Malaysia), Prof. Dr. Tulus Suryanto, M.M., Akt., C.A (UIN Raden Intan Lampung), serta Prof. Dr. Alvaro Rocha (University of Lisbon, Portugal). Acara dimoderatori oleh dosen FEB UNIDA, Mas Nur Mukmin, S.E., M.Ak.
Penyelenggaraan The 2nd DGEC 2025 juga mendapat dukungan dari Universitas Jenderal Achmad Yani, Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan, Universitas Nusa Bangsa, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia sebagai co-host bersama. Selain itu, kegiatan ini turut didukung oleh sponsorship dari Bank BNI, Sundra Wisata, dan Toserba PP Sunan Drajat.