[email protected] 0251-8240773
Berita

The 9th DICAS & The 9th DICSS UNIDA 2025 Hadirkan Prof. Dr. Dimitrios Maditinos, Bahas Peran Transformasi Digital dan Teknologi Hijau untuk Pertumbuhan Berkelanjutan Global

Transformasi digital dan teknologi hijau dinilai menjadi dua kekuatan utama yang saling terhubung dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan di era global. Pandangan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Dimitrios Maditinos dari Democritus University of Thrace, Yunani, saat menjadi salah satu pembicara internasional pada rangkaian kegiatan the 9th Djuanda International Conference on Applied Science (DICAS) dan the 9th Djuanda International Conference on Social Science (DICSS) yang diselenggarakan oleh Universitas Djuanda (UNIDA).

Kegiatan ini digelar secara hybrid pada Senin (22/12/2025) di Aula Gedung C UNIDA dalam rangka memperingati Hari Nusantara atau Deklarasi Djuanda, yang menjadi tonggak penting penegasan identitas maritim dan kedaulatan Indonesia.

Dalam pemaparannya bertajuk “The Role of Digital Transformation and Green Technologies in Advancing Sustainable Growth”, Prof. Dimitrios menjelaskan bahwa transformasi digital merupakan proses integrasi teknologi digital secara mendalam ke dalam seluruh aspek organisasi dan sistem ekonomi. Transformasi ini mencakup perubahan cara kerja, budaya organisasi, hingga pengambilan keputusan berbasis data dengan tujuan meningkatkan efisiensi, nilai tambah, dan daya saing.

Ia menekankan bahwa transformasi digital bukan sekadar adopsi teknologi baru, melainkan proses penataan ulang model operasional dan strategi jangka panjang. Pemanfaatan kecerdasan buatan, komputasi awan, Internet of Things (IoT), hingga analisis data dinilai mampu meningkatkan ketepatan dalam perencanaan serta pengelolaan sistem ekonomi dan lingkungan.

Seiring dengan itu, Prof. Dimitrios menggarisbawahi peran teknologi hijau sebagai solusi nyata dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan global. Energi terbarukan, infrastruktur rendah karbon, ekonomi sirkular, serta konstruksi berkelanjutan disebut sebagai fondasi penting menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Menurutnya, transformasi digital dan teknologi hijau tidak berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat. Teknologi digital menyediakan kecerdasan dan akurasi, sementara teknologi hijau memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan. Konvergensi keduanya membentuk pola pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis ketahanan, kecerdasan, dan tanggung jawab lingkungan.

Prof. Dimitrios juga memaparkan berbagai praktik baik dari Eropa dan Asia dalam pengembangan kota cerdas, manufaktur berkelanjutan, transportasi listrik, serta sistem energi modern. Ia menilai bahwa Eropa memiliki kekuatan pada aspek regulasi, standar, dan koordinasi lintas negara, sementara Asia unggul dalam kecepatan adopsi teknologi dan skala implementasi.

“Perbedaan pendekatan ini justru membuka peluang besar untuk saling belajar dan berkolaborasi dalam membangun masa depan global yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menutup pemaparannya, Prof. Dimitrios mengajak para pemimpin, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas negara dan lintas sektor. Menurutnya, generasi mendatang akan menilai komitmen keberlanjutan dari tindakan nyata yang dilakukan hari ini, bukan sekadar dari niat atau wacana.

Sebagai informasi, The 9th DICAS & The 9th DICSS yang diselenggarakan oleh UNIDA ini mengusung tema “Converging Knowledge for a Sustainable Future: Leading Transformative Change through Interdisciplinary Innovation”. Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi akademisi, peneliti, praktisi, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk berbagi gagasan, hasil riset, dan inovasi lintas disiplin, sekaligus memperkuat semangat Deklarasi Djuanda dalam menjawab tantangan global pembangunan berkelanjutan.

Sejumlah akademisi dan peneliti internasional turut hadir sebagai narasumber, di antaranya Prof. Dr. Naim Demirel (Recep Tayyip Erdoğan University, Turki), Prof. Dr. Ravinder Rena (School of Business, Woxsen University, Hyderabad, India), Prof. Dr. Eng. Asep Bayu Dani Nandiyanto (Universitas Pendidikan Indonesia & Hiroshima University, Jepang), Prof. Dr. Necmettin Marasli (Istanbul Gelisim University, Turki), Prof. Dr. Nuarual Hilal Md (Universiti Utara Malaysia), Assoc. Prof. Dr. Abdulkareem Sh. Mahdi Al-Obaidi (Irak/Taylor’s University, Malaysia), serta Assoc. Prof. Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si. (Universitas Djuanda, Indonesia).