[email protected] 0251-8240773
Berita

Tingkatkan Kesadaran Peduli Lingkungan, UNIDA Gelar Sosialisasi Pengelolaan Sampah

Universitas Djuanda (UNIDA) selenggarakan sosialisasi terkait dengan bagaimana Pengelolaan Sampah di Lingkungan Kampus, Perguruan Amaliyah dan Pondok Pesantren, Senin (06/03/2023). Bertempat di Ruang Serbaguna Sekolah Pascasarjana UNIDA, sosialisasi ini menghadirkan K.H Khairul Saleh dari Majlis Al-Ihya dan Agus Supriyatna sebagai narasumber.

Turut hadir dalam kegiatan ini, diantaranya Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda (YSPIAI), Sekretaris Umum YPSPIAI, Pembina dan Pengasuh PP Mabit, para Wakil Rektor, para Dekan dan Wakil Dekan Non Akademik, Kepala Badan Urusan Rumah Tangga, para Kepala Biro, para Kepala Sekolah Perguruan Amaliah, Pengurus Ponpes PP Mabit dan Al-Binta, perwakilan dari Security serta perwakilan dari tim Cleaning Service YPSPIAI.

Direktur Eksekutif YPSPIAI Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I dalam sambutannya mengatakan, sampah menjadi permasalahan yang perlu perhatian khusus. Oleh karenanya diperlukan sebuah upaya dan kerja keras untuk mengatasi permasalahan sampah tersebut. Melalui pengelolaan yang baik, permasalahan sampah ini diharapkan dapat segera teratasi demi menciptakan lingkungan kampus dan perguruan yang bersih, indah dan sehat.

“Pak Chancellor sengaja mengundang Pak Kiai dan koleganya ke hadapan kita semua, untuk bersama-sama kita belajar bagaimana cara pengelolaan sampah yang baik. Sama-sama kita ketahui bahwa sangat banyak orang perhari yang hadir di kampus kita, di lingkungan sekolah kita, menyebabkan adanya permasalahan sampah. Bagaimana kemudian ini bisa kita kelola,” ujar Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I.

Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I menambahkan, perlu ada kebijakan yang mendukung selain dengan melakukan pembiasaan membuang sampah pada tempatnya, memisahkan sampah organik dan non organik, serta yang paling utama adalah bagaimana menumbuhkan karakter, menanamkan cinta kebersihan dalam diri.

“Semoga dengan segala niat baik, kita bisa istiqomah mewujudkan itu. Semangat dan harus dijaga semangatnya. Dalam waktu dekat juga akan segera didesain rumah dan bank sampah, manajemennya akan dibuat, sehingga tidak hanya solusi permasalahan persampahan, tetapi juga menjadi income generating bagi kita semua,” pungkas Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I.

Sementara itu, sebelum membahas perihal pengelolaan sampah, K.H Khairul Saleh pada kesempatan ini juga menyampaikan mengenai bagaimana mempersiapkan diri untuk menyongsong bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan datang.

“Bukan perihal topik yang disampaikan, tetapi hubungan silaturahmi yang paling penting, karena insyaAllah dengan menguatkan silaturahmi, kita akan mendapat keberkahan di setiap aspek kehidupan,” ujarnya mengawali pemaparan.

K.H Khairul Saleh mengatakan, saat ini telah memasuki bulan Sya’ban, yaitu bulan untuk bercocok tanam perihal kebaikan. Artinya, perlu banyak kebaikan yang ditanam sehingga begitu memasuki bulan Ramadhan, kebaikan yang ditanam itu akan tumbuh subur menjadi ladang pahala berkali-kali lipat.

“Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan hidayah dan taufik oleh Allah SWT, semua diberikan keberkahan, ini yang paling penting,” tuturnya.

Selanjutnya, K.H Khairul Saleh membahas mengenai pengelolaan sampah. Menurutnya, konsep pengelolaan sampah perlu dibangun atas dasar anjuran Rasulullah SAW yang menyatakan bahwasanya kebersihan merupakan sebagian dari iman.

“Pengelolaan sampah, bukan sekedar hanya mengelolanya, tapi yang paling penting adalah pendidikan karakter dan prilaku yang perlu dibangun. Apalagi kita harusnya sebagai seorang muslim perlu lebih peduli terhadap masalah yang berkaitan dengan lingkungan ini,” tegas K.H Khairul Saleh.

Pada kesempatan yang sama, Agus Supriyatna, mengemukakan bahwa rata-rata sampah organik di atas 60%. Sehingga ini bisa diolah kembali dan dimanfaatkan untuk memiliki daya jual. Lebih jauh Agus Supriyatna juga memaparkan mengenai alat pembuatan komposter yang telah dimodifikasi.

“Sampah menjadi isu sentral yang perlu diperhatikan. Mengatasi ini harus dimulai dari kemauan, karena yang sulit itu adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat itu sendiri,” ujarnya.