Tingkatkan Kesadaran Peduli Lingkungan, UNIDA Gelar Sosialisasi Pengelolaan Sampah
Universitas Djuanda (UNIDA) selenggarakan sosialisasi
terkait dengan bagaimana Pengelolaan Sampah di Lingkungan Kampus, Perguruan
Amaliyah dan Pondok Pesantren, Senin (06/03/2023). Bertempat di Ruang Serbaguna
Sekolah Pascasarjana UNIDA, sosialisasi ini menghadirkan K.H Khairul Saleh dari
Majlis Al-Ihya dan Agus Supriyatna sebagai narasumber.
Turut hadir dalam kegiatan ini, diantaranya Direktur
Eksekutif Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda (YSPIAI), Sekretaris Umum YPSPIAI,
Pembina dan Pengasuh PP Mabit, para Wakil Rektor, para Dekan dan Wakil Dekan
Non Akademik, Kepala Badan Urusan Rumah Tangga, para Kepala Biro, para Kepala
Sekolah Perguruan Amaliah, Pengurus Ponpes PP Mabit dan Al-Binta, perwakilan
dari Security serta perwakilan dari tim Cleaning
Service YPSPIAI.
Direktur Eksekutif YPSPIAI Dr. Hj. R. Siti Pupu
Fauziah, M.Pd.I dalam sambutannya mengatakan, sampah menjadi permasalahan yang
perlu perhatian khusus. Oleh karenanya diperlukan sebuah upaya dan kerja keras untuk
mengatasi permasalahan sampah tersebut. Melalui pengelolaan yang baik, permasalahan
sampah ini diharapkan dapat segera teratasi demi menciptakan lingkungan kampus
dan perguruan yang bersih, indah dan sehat.
“Pak Chancellor sengaja mengundang Pak Kiai dan
koleganya ke hadapan kita semua, untuk bersama-sama kita belajar bagaimana cara
pengelolaan sampah yang baik. Sama-sama kita ketahui bahwa sangat banyak orang
perhari yang hadir di kampus kita, di lingkungan sekolah kita, menyebabkan
adanya permasalahan sampah. Bagaimana kemudian ini bisa kita kelola,” ujar Dr.
Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I.
Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I menambahkan, perlu
ada kebijakan yang mendukung selain dengan melakukan pembiasaan membuang sampah
pada tempatnya, memisahkan sampah organik dan non organik, serta yang paling
utama adalah bagaimana menumbuhkan karakter, menanamkan cinta kebersihan dalam
diri.
“Semoga dengan segala niat baik, kita bisa istiqomah mewujudkan itu. Semangat dan harus
dijaga semangatnya. Dalam waktu dekat juga akan segera didesain rumah dan bank
sampah, manajemennya akan dibuat, sehingga tidak hanya solusi permasalahan
persampahan, tetapi juga menjadi income
generating bagi kita semua,” pungkas Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I.
Sementara itu, sebelum membahas perihal pengelolaan
sampah, K.H Khairul Saleh pada kesempatan ini juga menyampaikan mengenai
bagaimana mempersiapkan diri untuk menyongsong bulan Ramadhan yang sebentar
lagi akan datang.
“Bukan perihal topik yang disampaikan, tetapi hubungan
silaturahmi yang paling penting, karena insyaAllah
dengan menguatkan silaturahmi, kita akan mendapat keberkahan di setiap aspek kehidupan,”
ujarnya mengawali pemaparan.
K.H Khairul Saleh mengatakan, saat ini telah memasuki
bulan Sya’ban, yaitu bulan untuk bercocok tanam perihal kebaikan. Artinya,
perlu banyak kebaikan yang ditanam sehingga begitu memasuki bulan Ramadhan,
kebaikan yang ditanam itu akan tumbuh subur menjadi ladang pahala berkali-kali
lipat.
“Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan hidayah dan
taufik oleh Allah SWT, semua diberikan keberkahan, ini yang paling penting,”
tuturnya.
Selanjutnya, K.H Khairul Saleh membahas mengenai pengelolaan
sampah. Menurutnya, konsep pengelolaan sampah perlu dibangun atas dasar anjuran
Rasulullah SAW yang menyatakan bahwasanya kebersihan merupakan sebagian dari iman.
“Pengelolaan sampah, bukan sekedar hanya mengelolanya,
tapi yang paling penting adalah pendidikan karakter dan prilaku yang perlu dibangun.
Apalagi kita harusnya sebagai seorang muslim perlu lebih peduli terhadap
masalah yang berkaitan dengan lingkungan ini,” tegas K.H Khairul Saleh.
Pada kesempatan yang sama, Agus Supriyatna, mengemukakan
bahwa rata-rata sampah organik di atas 60%. Sehingga ini bisa diolah kembali
dan dimanfaatkan untuk memiliki daya jual. Lebih jauh Agus Supriyatna juga memaparkan
mengenai alat pembuatan komposter yang telah dimodifikasi.
“Sampah
menjadi isu sentral yang perlu diperhatikan. Mengatasi ini harus dimulai dari
kemauan, karena yang sulit itu adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat itu
sendiri,” ujarnya.