Tingkatkan Kualitas Pendidikan Pasca Pandemi, PBA UNIDA Bogor Selenggarakan Zoominar Nasional PTK
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA)
Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA)
Bogor selenggarakan Zoominar Nasional
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tema ?Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Pasca Pandemi Melalui Penelitian Tindakan Kelas?. Kegiatan tersebut
dilaksanakan secara daring menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meetings pada Sabtu, 2 Juli 2022. Zoominar tersebut diisi oleh Dosen Prodi PBA UNNES Semarang, Akbar
Syamsul Arifin, S.Pd., M.Pd.I dan Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
(PGSD) UNIDA Bogor, Resti Yektyastuti, M.Pd serta Dekan FAIPG UNIDA Bogor,
Zahra Khusnul Latifah, M.Pd.I selaku Keynote
Speaker.
Ketua Prodi PBA FAIPG UNIDA Bogor, Dr. H. Agung
Muttaqien, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan selamat mengikuti kegiatan Zoominar ini bagi para peserta. Semoga
ini menjadi semangat yang bisa peserta dan peserta dapat banyak mengambil
pelajaran dari Zoominar ini.
?Semoga Zoominar
kali ini bisa juga menjadi referensi yang sangat penting untuk didalami oleh
mahasiswa dan semoga materi dalam Zoominar
kali ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua,? tutur Dr. H. Agung
Muttaqien, M.Pd.
Perwakilan panitia, Najiaturrohimah dalam
sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terkait
dengan zoominar kali ini. Tujuan Zoominar
kali ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan membantu para guru untuk
memecahkan berbagai permasalah di kelas.
Selanjutnya Dekan FAIPG UNIDA Bogor, Zahra
Khusul Latifah, M.Pd.I dalam sambutannya menyampaikan bahwa ini tentu menjadi
apresiasi yang sangat tinggi untuk Prodi PBA dan peserta yang hadir berasal
dari seluruh daerah di Indonesia sehingga ini dapat dikatakan menjadi level
nasional. Terima kasih kepada seluruh panitia yang sudah menginisiasi Zoominar kali ini. Semoga kegiatan
majelis ilmu ini dapat selalu dilaksanakan dan dijaga serta dapat diikuti oleh Prodi
lain di FAIPG UNIDA Bogor. Kegiatan ini merupakan luaran dari mata kuliah dan
ini menjadi capaian mata kuliah diampu oleh Bu Resti.
Selanjutnya Dekan FAIPG UNIDA Bogor, Zahra
Khusul Latifah, M.Pd.I dalam penyampaian materinya menyatakan bahwa karena
pandemi COVID-19 dunia pendidikan sangat merasakan dampaknya karena tidak bisa
bertatap muka. Oleh karena itu banyak perubahan yang terjadi untuk menyesuaikan
begitu pun untuk saat ini berubah kembali ke masa psndemi sehingga pembelajaran
dilaksanakan menjadi tatap muka kembali akan tetapi itu butuh tahapan
penyesuaian terutama mengenai pengelolaan kelas yang butuh penyesuaian.
?Saat ini peran guru sebagai penggerak untuk mendorong
transformasi pendidikan Indonesia dan peran guru saat ini yaitu mendorong
peningkatan prestasi akademi murid, mengajar dengan kreatif serta mengembangkan
diri secara aktif sehingga harapan peran guru sebagai penggerak diantaranya
yaitu guru dapat mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, menjadi
pelatih/mentor bagi guru lain untuk pembelajaran yang berpusat pada murid serta
menjadi teladan dan agen transformasi bagi ekosistem pendidikan. Capaian
merdeka belajar dari guru sebagai penggerak diantaranya murid memiliki
kepribadian Profil Pelajar Pancasila yang diantaranya murid beriman, bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta murid menjadi mandiri,
bernalar kritis, ber-kebinekaan global, gotong royong dan kreatif,? tutur Zahra
Khusul Latifah, M.Pd.I.
Dosen Prodi PBA UNNES Semarang, Akbar Syamsul
Arifin, S.Pd., M.Pd.I dalam paparan materinya menyatakan bahwa karena masa
pandemi banyak memberikan perubahan dan perkembangan dalam dunia pendidikan
seperti dalam hal teknologi yang diantaranya penggunaan Zoom Cloud Meetings. Pembelajaran masa pandemi sangat berdampak
bukan hanya dampak negatif saja akan tetapi membuka dampak positif seperti
ruang belajar menjadi semakin luas. Akan tetapi banyak juga dampak negatif dari
pembelajaran jarak jauh seperti pembelajaran menjadi kurang efektif sehingga
menjadi kekurangan dalam pembelajaran jarak jauh.
?Strategi pelaksanaan penelitian tindakan kelas
pasca pandemi yang di mana guru merancang penelitian tindakan kelas dengan
beberapa langkah sebagai berikut yang diantaranya merasakan dan menyadari
masalah dalam pembelajaran, mengidentifikasi masalah yang bisa menggunakan
langkah-langkah sebagai berikut yang diantaranya tuliskan semua hal yang perlu
mendapatkan perhatian karena akan memberikan dampak negatif dalam pembelajaran.
Pilih dan klasifikasikan masalah sesuai jenisnya, jumlah siswa yang
mengalaminya dan frekuensi munculnya masalah tersebut. Setelah itu urutkan dari
yang ringan, jarang terjadi dan sering dialami oleh siswa. Lalu pilih 3-5 masalah,
kemudian konfirmasikan kepada guru mata pelajaran yang sama sebagai
kolaborator. Dan tahap selanjutnya apabila masalah yang dikonfirmasikan kepada kolaborator juga diakui sebagai
masalah yang harus dicarikan solusinya, maka masalah tersebut layak diangkat
sebagai tema PTK,? ungkap Akbar Syamsul Arifin, S.Pd., M.Pd.I.
Pada kesempatan yang sama, Dosen Prodi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNIDA Bogor, Resti Yektyastuti, M.Pd dalam
pemaparan materinya menyampaikan bahwa pandemi memberikan dampak yang sangat
terasa khususnya dunia pendidikan. Ada dua dampak pandemi dalam pembelajaran
yang pertama yaitu dampak kurang baik dan dampak baik. Dampak kurang baik
seperti learning loss, participation loss dan dampak
psikososial. Dampak baik seperti pemanfaatan teknologi, metode belajar baru,
dan inovasi dalam media pembelajaran.
?Cara memilih ide Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yaitu dengan fokus pengembangan diri, fokus pada kebutuhan siswa,
prioritas institusi dan ketertarikan intelektual. Dan untuk menanggulangi learning loss dan participation loss karena pembelajaran jarak jauh diantaranya
dengan diagnose dengan pemetaan
kemampuan belajar siswa. Selanjutnya dengan cara pendampingan siswa berkelompok
berdasarkan kemampuan dapat meningkatkan hasil belajar serta dengan cara
monitor yang setelah proses pengajaran. Lakukan pengukuran dan evaluasi berkala
terhadap siswa untuk memantau perkembangan siswa,? ungkap Resti Yektyastuti,
M.Pd.