[email protected] 0251-8240773
Kerjasama

UNIDA dan Kemenag Kabupaten Bogor Kolaborasi Gelar Webinar Nasional, Dorong Transformasi Pendidikan Madrasah Berbasis Digital

Sekolah Pascasarjana serta Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA) bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bogor menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Madrasah Go Digital: Membangun Generasi Emas dengan Deep Learning dan AI” pada Senin, 8 September 2025, melalui platform Zoom Cloud Meeting.

Webinar Nasional ini menghadirkan Rektor UNIDA, Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I sebagai Keynote Speaker, didampingi Dr. Irman Suherman, M.Pd dan Yoga Adi Pratama, M.Pd sebagai narasumber. Adapun lebih dari 500 Kepala Sekolah, Guru Madrasah, serta peserta umum dari berbagai daerah ikut serta dalam kegiatan ini.

Turut hadir memberikan sambutan, Kepala Kemenag Kabupaten Bogor, H. Ahmad Syukri, S.S, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi dengan UNIDA dalam mengadakan kegiatan webinar ini.

"Era digital menuntut madrasah untuk beradaptasi dengan teknologi terkini agar dapat mempersiapkan generasi emas yang kompetitif, kolaborasi antara Kemenag Kabupaten Bogor dengan UNIDA ini merupakan langkah konkret dalam meningkatkan kualitas SDM pendidik madrasah khususnya yang ada di Kabupaten Bogor," tegasnya.

Lebih lanjut, H. Ahmad Syukri, S.S menekankan bahwa madrasah di Kabupaten Bogor harus menjadi pelopor dalam penerapan teknologi pembelajaran.

"Dengan jumlah madrasah yang cukup banyak di Kabupaten Bogor, kami memiliki potensi besar untuk menjadi rujukan implementasi deep learning dan AI dalam pembelajaran agama maupun umum. Para guru madrasah harus siap mentransformasi metode mengajar tradisional menjadi pembelajaran berbasis teknologi yang lebih menarik dan efektif," pungkasnya.

Rektor UNIDA, Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I dalam paparannya menyampaikan bahwa konsep deep learning yang menjadi tren global saat ini ternyata telah dipraktikkan secara sempurna oleh Rasulullah SAW sejak 15 abad silam.

"Deep learning bukanlah pembelajaran permukaan atau sekadar hafalan untuk lulus ujian, melainkan pembelajaran bermakna yang memahami konsep, mengaitkan pengetahuan, menganalisis, dan menciptakan solusi," jelasnya.

"Jangan sampai deep learning menjadi latah nasional atau kebijakan ramai di atas, bingung di bawah. Kita juga perlu langkah strategis mulai dari merancang kurikulum berbasis kebutuhan lokal dan global, menyusun blueprint sistem yang jelas, hingga pelatihan guru berkelanjutan," tambahnya.

Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I juga menghubungkan 6C fondasi deep learning (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Citizenship, dan Character) dengan teladan Rasulullah SAW.

"Tanpa Wi-Fi, LMS, atau jargon modern, Rasulullah SAW telah mempraktikkan semua elemen tersebut dengan sempurna melalui tafakkur, strategi diplomasi, membangun masjid, Piagam Madinah, dan teladan Al-Qur'an yang berjalan," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Irman Suherman, M.Pd yang merupakan Dosen Sekolah Pascasarjana UNIDA mengemukakan bahwasanya sektor pendidikan madrasah di Indonesia didorong untuk mengadopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) guna mengatasi berbagai tantangan pembelajaran modern.

Menurutnya, pendidikan modern saat ini menghadapi empat tantangan utama, yakni beban kerja administratif guru yang berlebihan, kebutuhan personalisasi pembelajaran, keterbatasan akses pendidikan berkualitas, dan tuntutan penguasaan keterampilan abad ke-21.

"AI menawarkan solusi inovatif untuk mengotomatisasi tugas administratif, menciptakan pengalaman belajar adaptif, meningkatkan keterlibatan siswa, dan memperluas akses pendidikan," ujarnya.

Sementara itu, Yoga Adi Pratama, M.Pd menjelaskan pentingnya kegiatan kokurikuler dalam memperkuat dan memperkaya intrakurikuler untuk membangun kompetensi serta karakter murid. Ia menekankan pembentukan delapan dimensi profil lulusan, mulai dari keimanan, penalaran kritis, hingga kemampuan komunikasi, sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

“Kegiatan kokurikuler menjadi ruang tumbuh yang otentik bagi murid untuk belajar dengan cara yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” ujarnya.