UNIDA Gelar Seminar Karir, Bekali Calon Wisudawan Hadapi Tantangan Dunia Kerja dan Bisnis
Universitas Djuanda
(UNIDA) melalui Career Development Center (CDC) menyelenggarakan Seminar
Karir dan Pembekalan Alumni yang diisi oleh Dosen UNIDA Dr. Irman Suherman,
M.Pd dan Direktur PT Sumada Tama Berkah dan Founder Susu Mbok Darmi, Diambi
Ziaradia Leonardi, Senin (2/10/2023). Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gedung
C UNIDA ini dihadiri oleh Wakil Rektor I UNIDA Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H,
Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNIDA Muhammad Rendi Ramdani,
S.Pd.I., M.Pd serta diikuti oleh para Alumni calon wisudawan UNIDA ke-48.
Wakil Rektor I Aal
Lukmanul Hakim, S.H., M.H dalam sambutannya menyampaikan bahwa UNIDA mempunyai harapan
agar setiap alumni memiliki jenjang karir yang baik dan profesional setelah lulus
sebagai mahasiswa. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini dapat kembali mengasah
dan menjadi wadah pembekalan bagi para alumni UNIDA.
“Kegiatan ini
dilaksanakan dengan harapan jaringan alumni UNIDA lebih diperkuat dan ikatan
alumni UNIDA bisa dibentuk lebih baik agar menumbuhkan jaringan silaturrahmi
yang baik antar alumni. Adapun kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari perusahaan
yaitu Diambi Ziaradia agar kita tahu bagaimana menghilangkan mental block
calon wisudawan dalam menghadapi dunia kerja di masa depan, dan juga dari
bidang akademisi Dr. Irman Suherman, M.Pd. agar teman-teman tahu bagaimana
pentingnya melanjutkan Studi S2 hingga S3 dan bagaimana tips melanjutkan pendidikan
ke strata yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Senada dengan hal
tersebut, Kepala BKA UNIDA Muhammad Rendi Ramdani, M.Pd yang juga menjadi moderator
pada kegiatan ini menyampaikan bahwa seminar karir dan pembekalan alumni merupakan
kegiatan rutin tahunan sebagai persiapan bagi alumni yang akan secara resmi
menjadi wisudawan.
Kemudian, pada sesi pemaparan
materi, Direktur PT Sumada Tama Berkah dan Founder Susu Mbok Darmi,
Diambi Ziaradia Leonardi memaparkan terkait konsep-konsep sebagai wirausahawan
sukses, bagaimana langkah yang diambil setelah lulus dari kampus dan secara
umum menjelaskan keunggulan serta kelemahan bagaimana berkarir maupun berbisnis.
Pemaparan disampaikan secara ringan dengan penjelasan berdasarkan pengalaman
semasa muda hingga sukses seperti saat ini.
“Setelah lulus biasanya
kita akan dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu berkarir atau berbisnis. Kedua
hal ini memang memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Dalam
berkarir kita memiliki risiko penghasilan lebih stabil, waktu kerja tidak
fleksibel, tidak membutuhkan modal, dan potensi pendapatan terbatas. Sedangkan
dalam berbisnis, kita memiliki potensi pendapatan tidak terbatas, risiko
penghasilan tinggi, waktu kerja fleksibel dan membutuhkan modal,” tuturnya.
“Semua pilihan dikembalikan
kepada bagaimana kemampuan dan tanggung jawab teman-teman terhadap pilihan itu,
yang terpenting harus ada dalam pribadi dan prinsip teman-teman adalah memiliki
jiwa kewirausahaan. Dimanapun tempat kerja yang di jalani kita harus di bisa
menciptakan suatu nilai untuk memberikan solusi pada permasalahan yang dihadapi,”
sambungnya.
Diambi Ziaradia
menambahkan bahwa dalam berkarir atau berbisnis banyak jalur yang dapat dilalui,
diantaranya sukses melalui jalur prestasi, bagaimana membangun jiwa kewirausahaan
dalam hal apapun yang kita kerjakan.
“Sukses jalur prestasi
bagi saya ialah proses yang dimulai sejak masih duduk di bangku mahasiswa,
seperti misalnya sejak saya sebagai mahasiswa akhir di kampus. Jalur yang
dilalui ialah dimulai dari apa target suksesmu, kapan waktu sukses mu, apa
kebutuhan suksesmu, lalu kerjakan jalan menuju suksesmu, dan terakhir evaluasi
hasil kerjamu. Ini terlihat sederhana padahal hal ini dapat memacu semangat
kita dalam berkarir, berbisnis maupun berkarya. Jadi kewirausahaan bukanlah
metode, tetapi konsep filosofis yang harus di jiwai,” lanjutnya.
Diambi ziaradia
mengakhiri pemaparannya dengan sebuah quotes inspiratif, yaitu
kesuksesan bukanlah hasil dari sebuah tujuan, tetapi proses untuk mencapai
tujuan tersebut.
Selanjutnya, pemaparan
materi kedua disampaikan oleh Dr. Irman Suherman,M.Pd. Dalam pemaparan
materinya, Dr. Irman Suherman,M.Pd menceritakan proses bertumbuh dan konsistensi
dalam belajar dari SD sampai mendapatkan gelar doktor sebagai bagian dari proses
menggapai cita-cita. Dr. Irman Suherman, M.Pd juga menceritakan kesukaannya
pada belajar, pengalamannya yang hobi untuk belajar dari kecil dan perjuangan
orang tuanya untuk menyekolahkannya.
“Studi lanjut adalah
proses. Orang yang berpendidikan di Indonesia hanya 10%, dan dari 10% ini masih
ada yang memiliki status pengangguran. Indonesia adalah negara yang besar dan
penduduknya sangat banyak. Tetapi rata-rata penduduknya hanya lulusan SMA. Kita
harus mengambil peran, karena Indonesia milik kita bersama Jika masyarakat
tidak peduli, maka siapa yang akan memajukan
Indonesia di masa depan," ujarnya.
Dr. Irman Suherman, M.Pd
menambahkan bahwa pendidikan menjadi cikal bakal para pebisnis dan wirausaha.
Hal tersebut dilihat berdasarkan riset dari buku “the price we pay”.
“Riset dari buku berjudul the price we pay ada 3 konsekuensi yang akan didapatkan jika seseorang tidak menginginkan pendidikan, yaitu kemiskinan, kesehatan, dan keamanan. Negara yang aman, memiliki masyarakat yang sehat dan penduduknya tidak miskin, itu karena pendidikan. Kita bisa memiliki peran berdasarkan potensinya masing masing. Mayoritas masyarakat Indonesia hidup dalam kemiskinan dan diakibatkan karena kurangnya pendidikan. Kemiskinan yang tersistematis hanya bisa diputus oleh pendidikan. Orang tua yang miskin akan menurunkan pemikiran kepada anaknya bahwa pendidikan itu tidak penting,” terangnya.