[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

UNIDA Gelar Shalat Idul Adha 1447 H di Masjid Baitul Hamdi, Momentum Teladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS sebagai Wujud Ketawaqwaan

Insan Universitas Djuanda (UNIDA) bersama keluarga besar Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia (YPSPIAI) melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah di Masjid Baitul Hamdi, Rabu, 27 Mei 2026.

Dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha tersebut, Ustadz Dr. Syukri Indra, S.Pd.I., M.Pd.I Al-Hafizh bertindak sebagai imam, Dede Syahrudin, S.A.P., M.A.P sebagai bilal, serta Dr. Asep Thobibudin Qolyubi, S.H., M.H sebagai khatib.

Turut hadir Ketua Pembina YPSPIAI sekaligus Chancellor UNIDA, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H beserta jajaran pengurus yayasan, Rektor UNIDA Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd bersama pejabat struktural di lingkungan UNIDA, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Dalam khutbahnya, Dr. Asep Thobibudin Qolyubi, S.H., M.H menyampaikan bahwa ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan wujud ketakwaan dan kepedulian sosial kepada sesama.

“Ibadah qurban bukan tentang banyaknya hewan yang disembelih, melainkan keputusan hati dan ketakwaan kepada Allah SWT. Qurban menjadi bukti nyata kepedulian sosial serta pengorbanan total kepada Allah SWT, di antaranya untuk menghindari sifat kikir dan meraih ridha-Nya,” tuturnya.

Dr. Asep Thobibudin Qolyubi, S.H., M.H juga menjelaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi teladan tentang besarnya cinta dan ketaatan kepada Allah SWT.

“Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah lebih besar dari segalanya, termasuk kepada anaknya sendiri. Nabi Ibrahim tunduk tanpa keraguan, sementara Nabi Ismail menerima dengan penuh keikhlasan dan meneguhkan ayahnya agar tetap teguh dalam iman,” paparnya.

Lebih lanjut, Dr. Asep Thobibudin Qolyubi, S.H., M.H menyampaikan bahwa ujian pengorbanan dalam kehidupan tidak selalu berbentuk penyembelihan hewan qurban, tetapi juga berkaitan dengan berbagai hal yang dicintai manusia.

“Tidak semua orang diuji dengan perintah menyembelih hewan. Ada yang diuji melalui ego, hawa nafsu, kecintaan berlebihan terhadap harta, jabatan, waktu, maupun kenyamanan hidup. Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan nilai sosial, sehingga seorang muslim tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga peduli terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat,” jelasnya.