[email protected] 0251-8240773
Berita

Upayakan Antisipasi Resiko PMK terhadap Hasil Produksi Ternak Perah, HIMPROMAPET FAPERTA UNIDA Bogor Gelar Webinar Nasional

Himpunan Profesi Mahasiswa Peternakan (HIMPROMAPET) Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor selenggarakan Webinar Nasional bertajuk Dampak dan Upaya Antisipasi Resiko Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap Hasil Produksi Ternak Perah dengan menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meetings pada Kamis, 16 Juni 2022. Webinar tersebut diisi oleh Akademisi Universitas Djuanda, drh. Agung Puji Haryanto, M.Si, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si dan Praktisi, drh. Taufik Iskandar serta turut dihadiri oleh Rektor UNIDA Bogor, Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH dan Dekan FAPERTA UNIDA Bogor, Dr. Ir. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si beserta jajaran. Webinar tersebut dalam rangka peringatan Milad HIMPROMAPET UNIDA Bogor dan Hari Susu Nasional.

Rektor UNIDA Bogor, Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH dalam sambutannya memyampaikan bahwasanya setelah berhasil bebas dari wabah penyakit mulut dan kuku pada tahun 1986 dan dunia mengakui keberhasilan Indonesia dalam memberantas wabah pada tahun 1990 saat ini kita dihadapkan lagi pada kasus serupa kasus pertama di tahun 2022, ditemukan di Gresik Jawa Timur pada tanggal 28 April dan peningkatan kasus terjadi rata-rata dua kali setiap harinya.

?Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Republik Indonesia telah melakukan beragam upaya pencegahan, penyebaran penyakit mulut dan kuku di Indonesia tindakan karantina pengamanan di pelabuhan laut maupun udara dan upaya penelitian dilakukan bahkan kementrian pertanian melalui Dikjen bina produksi peternakan telah mengeluarkan keputusan melarang impor hewan bahan asal dan hasil hewan berikut produk dari Uni Eropa dan Amerika Selatan, meskipun berbagai pihak berkeberatan dan kebijakan tetapi Kementrian Pertanian berusaha untuk terus melaksanakan hal tersebut dalam rangka mencegah penyebaran potensi penyakit mulut dan kuku, upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit maupun upaya mengurangi resiko pada produksi hasil olahan,? tutur Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH.

Selanjutnya Dekan FAPERTA UNIDA Bogor, Dr. Ir. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si dalam sambutannya mengungkapkan hari kemarin terjadi pandemi untuk manusia yaitu COVID-19 dan semoga PMK ini tidak menjadi pandemi bagi hewan. Jika hal tersebut terjadi akan membuat sektor peternakan Indonesia bahkan dunia akan rusak. Maka dari itu webinar kali ini untuk mengupas tentang PMK agar tidak membuat keresahan yang akan berdampak pada sosial ekonomi Indonesia.

?PMK jika menyebar akan menyebabkan keresahan dan untuk mengantisipasinya akan membutuhkan waktu bisa sampai 20 tahun. PMK ini bukan hal biasa, tetapi tidak boleh ditakuti, kita harus mengantisipasinya dengan cepat agar PMK tidak menyebar secara menyeluruh. Webinar ini untuk meluaskan wawasan kita untuk dapat mengatasi dampak peternakan sosial, ekonomi, dan masyarakat,? ungkap Dr. Ir. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si.

Ketua Program Studi Peternakan FAPERTA UNIDA, Dewi Wahyuni, S.Pt., M.Si dalam sambutannya menyatakan dalam webinar ini akan membahas mengenai PMK, karena penyakit mulut kuku ini sudah mewabah di Indonesia dan telah menyebar ke 18 provinsi di Indonesia. Terlihat adanya kepanikan dan kekhawatiran masyarakat pada hasil susu dan daging. Oleh karena itu dengan diadakannya webinar nasional ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai PMK.

Selanjutnya Dosen FAPERTA UNIDA Bogor, drh. Agung Puji Haryanto, M.Si dalam paparan materinya menyampaikan virus PMK ini menyerang hewan berkuku belah. Dari tahun 2018-2022 produksi susu lebih sedikit dibanding dengan konsumsi oleh karena itu dengan adanya PMK ini produksi susu sapi menurun. Fase pertama setelah hewan terjangkit PMK akan mengalami demam tinggi. Dilanjut fase kedua kulit akan melepuh. Dan pada fase ketiga terjadi luka pada kaki hewan yang terjangkit. Sebagian besar kematian PMK ini disebabkan hewan ternak tidak bisa makan dan nutrisinya menurun. Dalam kasus pada ternak perah ketika virus masuk ternak akan ambruk sehingga susah di perah maka akan terjadi masitis.

?Kondisi virus PMK paling tinggi bertahan hingga 11 hari di dalam saliva. Mekanisme pemotongan sapi bisa dilakukan 14 hari setelah pemberian antibiotik. Kandang yang terinfeksi virus PMK baru bisa diisi kembali 21 hari setelah disinfektan. Dalam pengendalian wabah PMK ini bisa dilakukannya Biosecurity yaitu dengan vaksinasi untuk sapi yang sehat, isolasi untuk memisahkan sapi yang sehat dan yang sakit, rapid test, pengaturan lalu lintas dan dekontaminasi.  Ada pun peran akademisi dalam penanganan wabah PMK ini yaitu aktif dalam satgas PMK kota Bogor, membangun komunikasi, informasi, edukasi pada stakeholder peternakan dan masyarakat luas, sosialisasi pentingnya penerapan elemen biosecurity,? tutur drh. Agung Puji Haryanto, M.Si.

Praktisi, drh. Taufik Iskandar dalam pemaparan materinya menyampaikan PKH mengatakan penyakit mulut dan kuku telah menyebar. Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam atau mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harga beda dan dampak psikologis. Pada tahun 1986 Indonesia bebas PMK dan pada tahun 1987 Diakui Asean, dan pada tahun 1990 diakui dunia. Penyakit ini disebabkan dari virus type A, dari keluarga Picornavirdae, genus Apthovirus yaitu Aphtaee epizootecae. Penyakit ini dapat bertahan lama di lingkungan dan bertahan hidup pada tulang, kelenjar, susu, serta produk susu. Tingkat kematian dari PMK ini 1-5% dan gejalanya ialah ternak terlihat lemah, lesu, kaki pincang, air liur berlebihan, tidak mau makan, dan mulut melepuh.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si dalam paparan materinya menyatakan PMK sudah menyebar di  Indonesia sebanyak 18 provinsi dan 180 kabupaten yang terdampak, jumlah kasusnya yaitu sekitar 13.492 dan yang mati 236. Kemudian status PMK Kabupaten Bogor per 14 juni 2022 potong bersyarat ini terdiri dri 40 ekor sapi, dan sapi potong adalah hampir semua pendatang lintas ternak dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, biasanya ada pendatang sapi di daerah tertular khususnya yaitu untuk hewan kurban, yang mati berjumlah 23 ekor pada sapi perah ada 2 ekor sapi induk yang mati dan ini sangat merugikan pada sapi perah.

?Hal hal yang sudah di lakukan dalam penanganan PMK yaitu distribusi obat, APD, pengobatan, Desinfektan, kan KIE kepada masyarakat. Langkah permanennya yaitu melakukan profiling peternak, pedagang, penjual, dan pengepul ternak, pemetaan risiko dan jalur risiko lalu lintas hewan dan produk hewan, melakukan vaksinasi terhadap seluruh hewan sehat pada daerah terancam, melakukan pembatasan lalu lintas (lockdown zonasi) hewan dan produk hewan keluar dari daerah tertular menuju daerah bebas, melakukan surveilans epidemiologi untuk menentukan luasan sebaran penyakit dan menentukan jumlah ternak terancam, meningkatkan kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) terkait ancaman PMK terhadap kesehatan ternak dan kerugian ekonomi bagi peternak, upaya pencegahan dan pengendalian PMK, penerapan biosekuriti, menempatkan hewan sakit dan/atau terduga sakit tetap berada dalam kandangnya stand still, serta mengandangkan hewan rentan terpisah dengan hewan sakit/terduga sakit serta,? ungkap Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si.