Usung Tema Toxic Relationship Terhadap Kesehatan Mental, Prodi Sains Komunikasi UNIDA Kolaborasi dengan Prodi Ilmu Komunikasi UNSA Gelar Webinar Nasional
Program Studi Sains Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial,
Ilmu Politik, dan Ilmu Komputer (FISIPKOM) Universitas Djuanda (UNIDA)
berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Surakarta menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk
KOMPRA 2.0 yang mengusung tema "Healing:
Fenomena Toxic Relationship Terhadap Kesehatan Mental", pada Sabtu
(1/10/2022).
Webinar ini diisi oleh Wahjoe Mawardiningsih, S.Sos.,
M.I.Kom (Dosen Psikologi Komunikasi Universitas Surakarta), Ruhimat, S.Sos.,
M.I.Kom (Dosen Komunikasi Organisasi UNIDA), dan Nila Nirmala, M.Psi (Praktisi
Bidang Psikologi Industri Organisasi) sebagai narasumber, adapun moderator
ialah Wakil Dekan FISIPKOM UNIDA Maria
Fitriah, S.Sos., M.Si dengan dipandu oleh Dosen Program Studi Sains Komunikasi
UNIDA Nadia Amalia, S.I.Kom., M.A.P.
Hadir memberikan welcome
remark, Dekan FISIPKOM UNIDA Ginung Pratidina, Dra., M.Si menuturkan, kegiatan
webinar yang terselenggara adalah salah satu bentuk kerja sama yang dijalin
antara UNIDA dengan UNSA. Nantinya, juga akan diselenggarakan berbagai macam
kegiatan kolaborasi yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kedua
belah pihak, khususnya bagi mahasiswa maupun masyarakat secara luas.
“Tentu saja pembicaaraan ini sangat menarik, saya
berharap peserta dapat ikut serta sampai selesai karena banyak sekali yang akan
kita petik. Kemudian, mengenai kerja sama antara UNIDA dan UNSA mudah-mudahan
tidak berhenti sampai disini, setelah sebelumnya didahului oleh MoU dan IA. Oleh
karenanya kami berharap kerja sama ini juga akan meluas, dalam hal ini saling
berbagi ilmu, sharing wawasan, untuk
mahasiswa, maupun masyarakat,” ujarnya.
Ruhimat, S.Sos., M.I.Kom dalam paparannya menyampaikan
bahwa komunikasi organisasi merupakan sebuah proses yang terjadi dalam suatu
organisasi berupa penyampaian, penerimaan serta pertukaran informasi dan pesan
yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang sudah ditetapkan oleh
bersama, baik antara anggota serta pemimpin organisasi.
“Seiring dengan dinamika di sebuah organisasi, dunia
kerja, terjadi semacam disrupsi yang menyebabkan perubahan sehingga dibutuhkan
penyesuaian, menuntut adanya perubahan di setiap lini atau disebut dengan
target. Toxic ini sudah ada sejak
lama, istilah toxic sudah familiar,
baik dunia kerja ataupun budaya organisasi. Pertanyaannya, apa sih yang menyebabkan
toxic di dunia kerja itu terjadi?,”
tuturnya mengawali pemaparan.
Ruhimat, S.Sos., M.I.Kom menambahkan, menurut Lillian
Glass dalam bukunya yang berjudul Toxic
People, toxic relationship
adalah hubungan yang tidak saling mendukung satu sama lain. Toxic Leader Dalam Organisasi, ada
istilah toxic leader. Ini berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinan dalam
organisasi itu sendiri. Mengutip Leadership
Forces, pemimpin toxic didefinisikan
sebagai orang yang memiliki perilaku destruktif dan kepribadian buruk yang
menimbulkan gangguan.
“Ada 6 macam toxic
relationship di tempat kerja yang harus dihindari, diantaranya hubungan
yang bersifat pasif agresif, hubungan kurang kepercayaan dan sulit memaafkan,
hubungan hanya sepihak, hubungan yang idealis, hubungan yang bersifat
menghukum, dan terakhir hubungan yang dibangun atas kebohongan,” terangnya.
Sementara itu, Wahjoe Mawardiningsih, S.Sos., M.I.Kom memaparkan
mengenai karakteristik manusia sebagai makhluk sosial serta bagaimana
komunikasi menjadi bagian penting dari kegiatan dan kebutuhan dasar manusia
sejak lahir.
“Ciri makhluk sosial pertama adalah selalu membutuhkan
orang lain, tidak bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Kedua, ingin
berinteraksi dengan orang lain, seperti bercerita, curhat. Ketiga, ingin selalu
berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimanapun komunikasi merupakan kegiatan dan
kebutuhan dasar manusia dari waktu kita lahir. Berkenaan dengan tema, orang
yang toxic berkomunikasi seakan
menyakitkan bagi komunikannya, sementara bagi dirinya sendiri biasa saja,”
ungkapnya.