[email protected] 0251-8240773
Berita

Chancellor UNIDA Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H Dianugerahi Profesor Emeritus, Sampaikan Orasi Ilmiah Tentang Pentingnya Sense of Obedience Bangsa

Chancellor Universitas Djuanda (UNIDA), Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H dianugerahi gelar kehormatan istimewa Profesor Emeritus dalam Sidang Terbuka Senat Akademik UNIDA yang digelar pada Selasa (27/05/2025) di Puri Begawan, Bogor, bersamaan dengan agenda Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Periode Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Membangun Sense of Obedience Bangsa”.

Di awal pembahasannya, Prof. Dr. H. Matin Roestamy, S.H., M.H menjelaskan bahwa ketaatan yang sejati lahir dari kesadaran tauhid dan prinsip kebenaran yang ditetapkan oleh Allah SWT.

“Mari kita renungkan firman Allah dalam Q.S. Qaf ayat 27–28. Di hari akhir, setan akan berlepas tangan: ‘Aku tidak menyesatkan manusia, ia sendiri yang memilih jalan itu.’ Namun Allah berfirman tegas: ‘Jangan bertengkar di hadapan-Ku, sungguh Aku telah memberi peringatan.’ Ini menjadi pelajaran penting bahwa kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas dosa yang kita lakukan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan ketaatan sejati bukan sekadar ritual, tetapi bentuk kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui, dan ancaman-Nya adalah nyata,” terangnya.

Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H kemudian menggambarkan ketaatan seperti pohon, yakni berakar pada ketuhanan, bertumpu pada Rasul, dan bercabang pada pemimpin yang adil. Namun ia menegaskan, ketaatan kepada pemimpin tidak boleh buta.

“Ketaatan pada pemimpin harus bersyarat. Jika perintah bertentangan dengan kebenaran atau mengarah pada kemaksiatan, maka umat wajib menolak. Hadis Rasulullah yang menyatakan, ‘Dengar dan taatilah pemimpin meskipun punggungmu dicambuk,’ itu berlaku selama mereka berada dalam kebenaran. Ketaatan haruslah kritis dan berdasarkan akal sehat, bukan kepasrahan tanpa nalar,” tegasnya.

“Ingat, Rasulullah bersabda, siapa yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan, lisan, atau hati. Diam itu dosa. Ketaatan pada Allah harus lebih besar dari takut pada atasan,” sambungnya.

Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H juga menyuarakan keprihatinan terhadap krisis multidimensi yang melanda negeri ini, mulai dari ketimpangan agraria hingga budaya korupsi. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus menjadi prioritas.

“Ketaatan berbasis tauhid adalah tameng dari nafsu serakah. Jika nilai-nilai ini hidup, para koruptor akan malu, penguasa zalim akan gemetar. 21 Nilai Karakter bukan sekadar teori. Tapi ini adalah kompas untuk menyelamatkan bangsa. Mari kita buktikan bahwa ketaatan pada Allah bisa mengubah Indonesia, dari negeri korupsi menjadi negeri berintegritas, dari negeri timpang menjadi negeri berkeadilan,” ungkapnya.

Di akhir orasi, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H mengingatkan para wisudawan dan wisudawati akan tanggung jawab moral sebagai pewaris nama besar Ir. H. Djuanda. Sehingga, diharapkan para alumni UNIDA untuk terus menjaga nilai-nilai karakter serta menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

It’s nice to be important, but more important to be nice. Adalah baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting ternyata untuk menjadi orang baik,” pesannya.