Hari Kopi Internasional: Proses Pengolahan Kopi dan Pengaruhnya Terhadap Citarasa Seduhan Kopi
Oleh:
Muhammad Fakih Kurniawan,
S.Si., M.Si
(Dosen Program Studi
Teknologi Pangan Fakultas Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda)
Setiap tanggal 1
Oktober diperingati sebagai Hari Kopi Internasional. Data USDA (Departemen
Pertanian Amerika Serikat) menunjukkan periode 2022/2023 produksi kopi dunia
mencapai 170 juta kantong per 60 kg. Produksi kopi terbesar berasal dari Brasil
disusul Vietnam, dan Indonesia menempati ranking 3 dunia dengan produksi 11,85
juta kantong. Salah satu tahap terpenting yang mempengaruhi citarasa kopi
adalah proses pengolahan. Secara umum
proses olah kopi ada tiga jenis yaitu proses
basah (washed process), proses kering
(dry process), dan honey process.
Pada
proses basah, buah kopi direndam dalam air kemudian dilewatkan pada alat
pengupas sehingga kulit luar terpisah. Setelah terpisah biji kopi dibersihkan
dan direndam kembali selama 12 sampai 24 jam agar lendir hilang dengan proses
fermentasi. Kemudian dilanjutkan pengeringan hingga didapatkan biji kopi.
Proses basah ini banyak digunakan di Kolombia dan beberapa negara Amerika
Tengah. Di Indonesia sendiri teknik ini disebut giling basah (termasuk fully
wash dan semi wash) dan banyak digunakan oleh petani kopi di
Sulawesi, Sumatra, Jawa, Flores, dan Papua. Berbeda dengan proses basah, pada
proses kering kopi yang telah dipetik kemudian ditebar dan dijemur dibawah
sinar matahari secara langsung. Proses yang dikenal dengan nama natural process
ini perlu waktu penjemuran 3-4 hari atau tergantung cuaca. Kunci utama dari
proses pengeringan adalah mendapat panas yang ideal (suhu 50-55ºC). Proses natural
merupakan teknik pengolahan kopi tertua dan banyak diaplikasikan petani di
negara Brazil atau negara yang ketersediaan airnya terbatas seperti Afrika. Sebagian
kecil petani kopi arabika di Sulawesi, Flores, Bali, dan hampir seluruh petani
kopi robusta di seluruh Indonesia menggunakan metode ini.
Teknik ketiga
yaitu honey process yang merupakan teknik gabungan basah dan kering.
Pertama buah kopi dikupas mengunakan mesin yang ditambah sedikit air. Tujuannya
agar beberapa lapisan kulit mucilage dan lendir masih tersisa yang
kemudian dijemur. Penghilangan kulit ini bisa diatur ketebalannya sehingga akan
menghasilkan beberapa tipe honey process seperti yellow honey, red
honey, dan black honey. Setelah kering, lapisan yang tersisa di biji
kopi akan nampak lengket seperti madu sehingga dinamakan honey process.
Perbedaan jenis
pengolahan ini berpengaruh terhadap karakter fisikokimia dan citarasa kopi.
Penelitian kami di Prodi Teknologi Pangan Fakultas Ilmu Pangan Halal
Universitas Djuanda dengan sampel kopi arabika Sigagar Utang yang diambil dari
Puncak Bogor menemukan kopi yang diolah secara basah (fully wash)
memiliki kandungan asam lebih tinggi daripada kopi yang diolah secara natural
dan honey. Proses fermentasi pada fully wash diyakini
berkontribusi terhadap pembentukan asam-asam organik. Hal ini didukung dari
hasil uji sensori yang menunjukkan kopi fully wash bercitarasa asam
sitrat tinggi, asam fustorat tinggi, dan juga asam malat. Selain itu body
seduhan kopi cenderung rendah ke medium dan hal ini berbeda dengan kopi yang
diolah natural cenderung memiliki body medium ke tinggi. Selain
itu flavor seperti buah anggur, apel, dan cempedak juga terasa pada kopi hasil
olah natural. Karakter spesifik kopi seperti flavor buah-buahan biasanya
dapat dirasakan oleh panelis terlatih kopi atau pecinta kopi tanpa gula.
Kopi yang diolah
dengan honey process memiliki karakter kimia khas yaitu kadar gula
(sukrosa) lebih tinggi daripada fullywash dan natural yaitu sekitar
4,78%. Hal ini dipengaruhi proses penyisaan beberapa lapisan mucilage
dan lendir yang masih menempel di biji kopi dan lapisan ini menyimpan kandungan
gula. Citarasa lain yang muncul pada kopi honey adalah terasa manis brownies,
fragrance seperti campuran gula aren, garam,dan asam jawa, serta ada
aroma seperti jeruk. Hal menarik lainnya yang kami temukan adalah kandungan
antioksidan kopi fully wash lebih tinggi daripada kopi natural
dan honey. Begitupula total fenol juga paling tinggi di kopi fully
wash.
Perbedaan ketiga
jenis pengolahan ini ternyata berpengaruh terhadap karakter terutama citarasa
kopi. Penikmat kopi selain bisa memilih jenis kopi (arabika atau robusta),
untuk saat ini di beberapa kedai kopi juga tersedia variasi kopi yang diolah
dengan cara berbeda seperti fullywash, semiwash, natural, honey,
dan lain lain. Sensasi dan pengalaman merasakan citarasa kopi berbeda dari
jenis olah pasca panen ini patut dicoba.