Kajian Muslimah UNIDA: Angkat Isu Krisis Peran Ibu sebagai Madrasatul Ula
Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Kajian Muslimah yang digelar di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA, Jum’at (23/1/2026). Kegiatan kali ini diisi oleh Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Dr. Helmia Tasti Adri, M.Pd dengan mengangkat tema “Krisis Figur Ibu sebagai Madrasatul Ula (Sekolah Pertama bagi Anak)”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama atas tantangan peran ibu dalam pendidikan keluarga di tengah perubahan zaman.
Kajian tersebut menyoroti pentingnya penguatan kembali peran ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga, khususnya dalam membentuk akhlak, karakter, dan spiritualitas anak sejak dini. Dalam penyampaiannya, pemateri menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan keluarga merupakan amanah yang dibebankan kepada kedua orang tua, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam QS. At-Tahrim ayat 6.
Dalam tausyiahnya Dr. Helmia Tasti Adri, M.Pd menyampaikan bahwa ibu memiliki posisi strategis sebagai madrasatul ula, yakni sekolah pertama bagi anak-anaknya. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya diserahkan kepada sekolah formal, melainkan harus dimulai dari lingkungan keluarga.
“Dari rahim dan pelukan seorang ibu, karakter, akhlak, dan cara pandang anak terhadap kehidupan mulai dibentuk. Ketika peran ini melemah, yang terjadi bukan hanya krisis keluarga, tetapi krisis generasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Helmia Tasti Adri, M.Pd menjelaskan bahwa krisis figur ibu sebagai teladan bukan disebabkan oleh berkurangnya kasih sayang, melainkan oleh berbagai faktor eksternal seperti tuntutan ekonomi, arus digital, serta pergeseran nilai sosial. Kondisi tersebut kerap mengurangi intensitas interaksi emosional dan pendidikan nilai antara ibu dan anak.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan pengetahuan bagi perempuan, khususnya ibu, sebagai kunci pemulihan peran madrasatul ula. Ibu yang berilmu dinilai mampu menjalankan pola asuh secara bijak dan adaptif terhadap tantangan zaman.
“Ibu yang berpengetahuan tidak hanya mengasuh, tetapi mendidik dengan kesadaran, arah, dan tujuan yang jelas. Pengetahuan menjadi benteng sekaligus bekal dalam mendampingi anak di era digital,” tambahnya.
Kegiatan Kajian Muslimah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran sivitas akademika Universitas Djuanda, khususnya para ibu, akan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama pendidikan dan pembentukan peradaban.