Mahasiswa FAPERTA UNIDA Selenggarakan Seminar Pemanfaatan Limbah Organik dengan Media Maggot
Mahasiswa Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas
Djuanda (UNIDA) yang tergabung dalam kelompok 7 kegiatan Kuliah Kerja Nyata
(KKN) selenggarakan seminar Pemanfaatan Limbah Organik dengan Media Maggot di
Madrasah Diniyah Al-Islamiyah Desa Cipicung pada (25/08/2022) dengan narasumber
dari dosen FAPERTA Dr. Burhanudin Malik, Ir., Mappl. Sc, Yuliawati, SP., M.Si
serta Muhammad Hazim Arroyan dari praktisi. Seminar pemanfaatan Maggot ini
merupakan tindak lanjut dari kegiatan penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan
limbah organik menggunakan alat komposter dengan media maggot.
“Terimakasih
yang sudah hadir dan menyempatkan waktunya di acara kami, yaitu seminar pemanfaatan
magot yang dimana pemanfaatan ini bisa menjadi ladang ilmu ataupun ladang usaha
sampingan yang bisa dikerjakan di rumah masing-masing, acara ini sangat Inovatif dan berpotensi untuk
dilakukan oleh masyarakat dan berharap masyarakat bisa mempraktikan nya,”
ungkap Ketua Kelompok 7 Robby Setiawan Wibbowo.
Pada kesempatan yang sama Dosen Pembimbing Lapang
Yuliawati, SP., M.Si. menyampaikan tentang kasgot (Bekas maggot) yang dapat
dimanfaatkan untuk pupuk tanaman pertanian ataupun tanaman hias, sehingga
sangat membantu petani untuk mengurangi pengeluaran dana dan pengurangan
penggunaan NPK (Bahan kimia).
Maggot atau dalam penyebutan lain disebut dengan
belatung merupakan larva dari jenis lalat Black
Soldier Fly (BSF) atau Hermetia
Illucens dalam bahasa Latin. Seperti yang sudah disebutkan bahwa maggot
merupakan larva dari jenis lalat yang awalnya berasal dari telur dan
bermetamorfosis menjadi lalat dewasa.
Maggot ini sangat berpotensi dibudidayakan di Desa
Cipicung karena dapat mengatasi permasalahan sampah organik dan dapat
dibudidayakan dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Komposter merupakan alat
untuk membuat pupuk organik cair ataupun padatan. Dengan ditambahkannya media
maggot, pembuatan kompos lebih cepat dan mendapatkan tiga keunggulan, yaitu budidaya
maggot yang bermanfaat bagi pakan ternak unggas dan pakan perikanan serta,
menghasilkan pupuk organik padat (kasgot) dan pupuk organik cair. setelah
melihat antusias masyarakat pada kegiatan tersebut, maka dari itu tersusunlah
ide untuk mengadakan acara Seminar Pemanfaatan Maggot yang mengundang pemateri
yang ahli dibidang maggot.
Pemaparan materi disampaikan oleh Dr. Burhanudin
Malik, Ir., Mappl. Sc yang menjelaskan tentang maggot sehingga dapat
menanggulangi permasalahan sampah untuk menciptakan Desa yang ramah lingkungan.
“Selain itu maggot dapat dijadikan sebagai pakan
ternak unggas dan perikanan. Budidaya maggot terbilang mudah dan tidak
memerlukan biaya yang besar,” pungkasnya.
Dari sisi praktisi disampaikan oleh Muhammad Hazim
Arroyan yang menjelaskan tentang Siklus Maggot.
“Maggot pertama kali memasuki fase telur/pupa.
Telur maggot akan menetas 2 sampai 4 hari tergantung pada suhu, setelah menetas
memasuki fase baby maggot, lalu memasuki fase maggot dewasa hingga 14 Hari lalu
maggot berubah menjadi pupa, fase ini berjalan selama 38–41 hari siap panen,”
jelasnya.
Kedepan diharapkan para Masyarakat Desa Cipicung
dapat menanggulagi permasalahan sampah organik dan bisa membudidayakan maggot
untuk dijadikan pakan ternak unggas dan perikanan.
Pada sesi wawancara H. M. Izudin selaku Penyuluh
Petani Swadaya menyambut baik kegiatan ini.
“Saya mengucapkan terimakasih karena sudah diadakan Acara Seminar Maggot ini, dan ikut merasa senang dikarenakan melihat respon positif dari para masyarakat yang ikut serta, masyarakat tertarik untuk membudidayakan maggot, serta ada beberapa masyarakat yang langsung menghubungi pemateri yang ahli dalam bidang maggot untuk menindaklanjuti budidaya maggot untuk menangani permasalahan pakan ternak unggas dan perikanan,” pungkasnya.