[email protected] 0251-8240773
Berita

Mahasiswa FAPERTA UNIDA Selenggarakan Seminar Pemanfaatan Limbah Organik dengan Media Maggot

Mahasiswa Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Djuanda (UNIDA) yang tergabung dalam kelompok 7 kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selenggarakan seminar Pemanfaatan Limbah Organik dengan Media Maggot di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah Desa Cipicung pada (25/08/2022) dengan narasumber dari dosen FAPERTA Dr. Burhanudin Malik, Ir., Mappl. Sc, Yuliawati, SP., M.Si serta Muhammad Hazim Arroyan dari praktisi. Seminar pemanfaatan Maggot ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan limbah organik menggunakan alat komposter dengan media maggot.

 

 “Terimakasih yang sudah hadir dan menyempatkan waktunya di acara kami, yaitu seminar pemanfaatan magot yang dimana pemanfaatan ini bisa menjadi ladang ilmu ataupun ladang usaha sampingan yang bisa dikerjakan di rumah masing-masing, acara ini sangat Inovatif dan berpotensi untuk dilakukan oleh masyarakat dan berharap masyarakat bisa mempraktikan nya,” ungkap Ketua Kelompok 7 Robby Setiawan Wibbowo.

 

Pada kesempatan yang sama Dosen Pembimbing Lapang Yuliawati, SP., M.Si. menyampaikan tentang kasgot (Bekas maggot) yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman pertanian ataupun tanaman hias, sehingga sangat membantu petani untuk mengurangi pengeluaran dana dan pengurangan penggunaan NPK (Bahan kimia).

 

Maggot atau dalam penyebutan lain disebut dengan belatung merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia Illucens dalam bahasa Latin. Seperti yang sudah disebutkan bahwa maggot merupakan larva dari jenis lalat yang awalnya berasal dari telur dan bermetamorfosis menjadi lalat dewasa.

 

Maggot ini sangat berpotensi dibudidayakan di Desa Cipicung karena dapat mengatasi permasalahan sampah organik dan dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Komposter merupakan alat untuk membuat pupuk organik cair ataupun padatan. Dengan ditambahkannya media maggot, pembuatan kompos lebih cepat dan mendapatkan tiga keunggulan, yaitu budidaya maggot yang bermanfaat bagi pakan ternak unggas dan pakan perikanan serta, menghasilkan pupuk organik padat (kasgot) dan pupuk organik cair. setelah melihat antusias masyarakat pada kegiatan tersebut, maka dari itu tersusunlah ide untuk mengadakan acara Seminar Pemanfaatan Maggot yang mengundang pemateri yang ahli dibidang maggot.

 

Pemaparan materi disampaikan oleh Dr. Burhanudin Malik, Ir., Mappl. Sc yang menjelaskan tentang maggot sehingga dapat menanggulangi permasalahan sampah untuk menciptakan Desa yang ramah lingkungan.

 

“Selain itu maggot dapat dijadikan sebagai pakan ternak unggas dan perikanan. Budidaya maggot terbilang mudah dan tidak memerlukan biaya yang besar,” pungkasnya.

 

Dari sisi praktisi disampaikan oleh Muhammad Hazim Arroyan yang menjelaskan tentang Siklus Maggot.

 

“Maggot pertama kali memasuki fase telur/pupa. Telur maggot akan menetas 2 sampai 4 hari tergantung pada suhu, setelah menetas memasuki fase baby maggot, lalu memasuki fase maggot dewasa hingga 14 Hari lalu maggot berubah menjadi pupa, fase ini berjalan selama 38–41 hari siap panen,” jelasnya.

 

Kedepan diharapkan para Masyarakat Desa Cipicung dapat menanggulagi permasalahan sampah organik dan bisa membudidayakan maggot untuk dijadikan pakan ternak unggas dan perikanan.

 

Pada sesi wawancara H. M. Izudin selaku Penyuluh Petani Swadaya menyambut baik kegiatan ini.

“Saya mengucapkan terimakasih karena sudah diadakan Acara Seminar Maggot ini, dan ikut merasa senang dikarenakan melihat respon positif dari para masyarakat yang ikut serta, masyarakat tertarik untuk membudidayakan maggot, serta ada beberapa masyarakat yang langsung menghubungi pemateri yang ahli dalam bidang maggot untuk menindaklanjuti budidaya maggot untuk menangani permasalahan pakan ternak unggas dan perikanan,” pungkasnya.