[email protected] 0251-8240773
Prestasi

Mahasiswa FIPHAL UNIDA Raih Pendanaan P2MW 2025, Hadirkan Inovasi Pangan Lokal dari Healthy Cookies hingga Mesin Pembuat Beras Analog

Mahasiswa Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek RI). Kali ini, dua tim dari Fakultas Ilmu Pangan Halal (FIPHAL) UNIDA sukses meraih pendanaan pada dua skema berbeda, yakni Makanan dan Minuman pada tahap Awal serta Manufaktur dan Teknologi Terapan pada tahap Bertumbuh.

Tim pertama berhasil lolos pendanaan melalui inovasi berjudul Healthy Cookies Berbasis Tepung Umbi Garut dengan Fortifikasi Varian Daun Poko dan Serai. Tim yang diketuai oleh Indrawan Setiaji ini beranggotakan Siti Aliza Fahira, Muhamad Rois Fahmi Khafabih, Farid Pidraus, dan Alleta Tri Wirani, di bawah bimbingan dosen FIPHAL Dr. Erna Puspasari, S.Si., M.Si. Produk cookies sehat ini dikembangkan berbasis bahan pangan lokal dengan memperhatikan nilai gizi, kehalalan, dan kebermanfaatan ekonomi.

Sementara itu, tim kedua berhasil meraih pendanaan dalam skema Manufaktur dan Teknologi Terapan tahap Bertumbuh, melalui inovasi bertajuk Rekayasa Perancangan MIRABEL: Mesin Inovatif Pembuat Beras Analog Efisien dan Lokal sebagai Ketahanan Pangan Pondasi Stabilitas Ekonomi. Tim ini diketuai oleh Anisyah Arivianti Wibowo bersama anggota Alsya Nursafa, Titi Fania Rabani, Cantyka Meisa Nurul Putri, dan Anastasya Fadillah, dengan dosen pembimbing Arti Hastuti, S.T.P., M.T.P. Inovasi ini menghadirkan solusi teknologi tepat guna untuk memproduksi beras analog yang efisien, terjangkau, dan berbasis potensi lokal.

Rektor UNIDA, Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I, menyampaikan apresiasi atas capaian membanggakan kedua tim mahasiswa tersebut.Keberhasilan ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa UNIDA lainnya untuk terus berinovasi, berkreasi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui karya yang berkelanjutan.

“Prestasi ini menunjukkan komitmen dan kapasitas inovatif mahasiswa UNIDA dalam menjawab tantangan zaman melalui solusi kreatif, aplikatif, dan berbasis potensi lokal. Capaian ini menjadi bukti bahwa ekosistem kewirausahaan UNIDA semakin berkembang dan mendukung mahasiswa untuk terus berkarya,” ujarnya.

Dosen pembimbing Dr. Erna Puspasari, S.Si., M.Si menambahkan bahwa inovasi healthy cookies menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam pengembangan pangan fungsional lokal yang sehat dan halal.

“Program ini menjadi ruang strategis untuk mengasah keterampilan kewirausahaan sekaligus memperkuat kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional,” katanya.

Senada dengan itu, Arti Hastuti, S.T.P., M.T.P menekankan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepekaan sosial dalam membangun wirausahawan muda yang tangguh.

“Semoga program ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik akademisi, pemerintah, maupun sektor swasta, agar inovasi dapat terus dikembangkan dan direalisasikan dalam skala produksi yang lebih luas sebagai bagian dari gerakan kemandirian pangan nasional,” ujarnya.

Ketua Tim Healthy Cookies, Indrawan Setiaji, mengungkapkan bahwa pendanaan ini menjadi pemicu semangat untuk terus memperbaiki produk dan menjajaki peluang pasar.

“Pendanaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus belajar, memperbaiki produk, dan menjajaki peluang pemasaran lebih luas. Kami ingin menunjukkan bahwa pangan lokal bisa naik kelas dan punya daya saing tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim MIRABEL, Anisyah Arivianti Wibowo, mengemukakan bahwa MIRABEL hadir sebagai teknologi tepat guna dalam mengembangkan produk beras analog. Ia berharap, kehadiran inovasi ini dapat diimplementasikan secara luas di masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan komunitas pertanian yang tengah mencari alternatif pangan lokal yang efisien dan terjangkau.

“Kami ingin menciptakan solusi yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh banyak kalangan, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi modern namun memiliki potensi sumber daya lokal yang melimpah,” tuturnya.