Majelis Dhuha UNIDA Hadirkan Ketua MUI DKI Jakarta, Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Hidup untuk Menggenggam Dunia Meraih Akhirat
Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) kembali menyelenggarakan kegiatan Majelis Dhuha pada Jumat 31 Oktober 2025, bertempat di Masjid Baitul Hamdi, Kampus UNIDA. Kegiatan rutin ketauhidan ini diikuti oleh seluruh insan akademika UNIDA serta masyarakat umum. Pada kesempatan ini, hadir sebagai narasumber Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., M.A., Ketua MUI DKI Jakarta sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta.
Majelis Dhuha kali ini mengusung tema besar “Menggenggam Dunia, Meraih Akhirat.” Rangkaian kegiatan diawali dengan shalat dhuha berjamaah, ratibul hadad, dzikir, dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan tausiyah utama oleh narasumber.
Chancellor UNIDA, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H dalam sambutannya menyampaikan ajakan kepada seluruh jamaah untuk memanfaatkan kegiatan Majelis Dhuha sebagai momentum memperkuat iman dan mempererat ukhuwah.
“Mari kita isi pagi ini dengan dzikir dan ilmu, memperkuat keimanan serta mempererat ukhuwah di lingkungan kampus tercinta,” ungkapnya.
Beliau juga mengingatkan agar seluruh jamaah menghadiri majelis dengan niat ibadah semata karena Allah SWT.
“Niatkan kehadiran di Masjid Baitul Hamdi untuk ibadah. Narasumber kita hari ini adalah sosok ulama yang hebat,” tambahnya.
Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., M.A menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Beliau mengawali ceramah dengan menceritakan kesannya saat memasuki lingkungan Kampus UNIDA.
“Saat saya melangkah ke area kampus ini, saya mendengar lantunan surat At-Takatsur dari adik-adik santri. Pemandangan di kampus ini luar biasa, di lapangan ada mahasiswa berolahraga, di kelas ada yang belajar, dan di masjid ada yang melaksanakan shalat dhuha. Inilah kampus yang mengajarkan keseimbangan hidup,” ungkapnya.
Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., M.A menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan yang harmonis antara dunia dan akhirat.
“Orang yang mengejar akhirat tidak harus meninggalkan dunia. Agama ini diturunkan oleh Allah untuk mengatur kehidupan manusia secara seimbang,” tuturnya.
Beliau menjelaskan, kunci keseimbangan hidup terletak pada kemampuan seseorang menjaga jarak dengan urusan dunia maupun akhirat secara proporsional.
“Semua yang bersifat duniawi letaknya di tangan, sedangkan akhirat letaknya di hati. Jika keduanya berada di tempat yang tepat, hidup akan terasa indah,” jelasnya.
Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., M.A menambahkan, dalam kehidupan ini manusia harus mampu menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya. Terkait dengan kehidupan kampus, ikhitar yang dapat dilakukan ialah belajar, bekerja, dan berprestasi. Namun ketika waktu ibadah tiba, ajarkan hati untuk tunduk dan berdzikir kepada Allah, itulah keseimbangan sejati.
“Hidup ini memerlukan keseimbangan. Kita harus bekerja keras dan berprestasi, tetapi hati tetap terikat pada Allah. Dunia hanyalah sarana menuju akhirat,” pesannya.
Dalam penjelasannya, beliau mencontohkan sosok petani sebagai gambaran keikhlasan dalam bekerja.
“Pekerjaan yang paling ikhlas adalah pekerjaan seorang petani. Ia menanam tanpa tahu berapa hasil yang akan diperoleh, bekerja dengan tangan yang kotor oleh lumpur namun hatinya bersih dan ikhlas karena Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan kekayaan dan ujian kepada hamba-Nya sebagai bentuk kasih sayang, agar manusia tidak terlena oleh dunia maupun putus asa karena kesulitan.
“Allah kadang memberikan kekayaan agar kita bersyukur, dan pada waktu lain memberi ujian agar kita tidak sombong. Jangan bersandar pada dunia, tetapi jadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Islam tidak pernah melarang umatnya menikmati karunia dunia, selama itu menjadi jalan untuk meningkatkan rasa syukur.
“Tujuan hidup kita adalah akhirat, namun agama tidak melarang kita menikmati nikmat dunia. Semua yang diberikan Allah hendaknya membuat kita lebih bersyukur dan semakin dekat kepada-Nya,” tuturnya.
Sebagai penutup, KH. Faiz mengingatkan pentingnya doa yang mencakup keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, sebagaimana termaktub dalam doa sapu jagat: Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia, berikanlah pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.)
“Doa ini mencerminkan harapan agar kita selalu seimbang sukses di dunia, bahagia di akhirat, dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT,” pungkasnya.