Matematika dan Islam Sebagai Pengelola Tata Nilai
Oleh:
Dr. Ir. Setyono, M.Si (Dosen Fakultas Pertanian
Universitas Djuanda)
Assalaamualaikum
wr. wb.
Alhamdulillah, puji
syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat kepada
kita sekalian, sehingga dapat menunaikan shalat dhuhur berjamaah. Shalawat dan
salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
beserta keluarganya, sahabatnya, pengikutnya, khususnya kita sekalian,
pendengar setia kuliah bakda dhuhur.
Hadirin yang
dimuliakan Allah.
Pada suatu hari di
tahun 1990-an Prof. Andi Hakim Nasoetion
pernah mengisi halaman opini harian Pikiran Rakyat dengan judul ”Ayabangkongngalagurame” tanpa spasi.
Kalau dituliskan Aya bangkong ngalagu
rame artinya wajar. Pada musim hujan di blombang
(kolam) banyak katak bernyanyi. Kalau dituliskan Aya bangkong ngala gurame artinya sangat langka. Katak yang dapat
mengambil (menangkap) gurame itu kalau kataknya besar sedangkan guramenya
anakan. Kalau gurame di kolam saya yang bobotnya sudah 7kg tidak ada katak yang
berani. Jadi makna kalimat tadi tergantung di mana menempatkan spasi.
Kalau saya bertanya
2+3x5 hasilnya berapa? Semua menjawab 17 tanpa ada perbedaan pendapat. Padahal
mungkin saja kalau 2+3 diberi kurung, dikerjakan dulu hasilnya 5, lalu dikalikan
5 hasilnya menjadi 25. Tetapi itu tidak dilakukan. Ini terjadi karena ada
hirarki dalam Matematika bahwa + dan – sejajar x dan : sejajar tetapi di atas +
dan -, sementara pangkat dan akar sejajar tetapi di atas x dan :. Aturan di
Matematika sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi perbedaan pendapat.
Adanya hirarki dalam matematika membuat hasil 2+3x5 tanpa kurung tidak ada
perbedaan pendapat, karena otomatis 3x5 dikerjakan dulu meskipun dituliskan
belakangan. Jadi berbeda dengan ayabangkongngalagurame yang artinya sangat
tergantung spasi. Di sini Matematika berperan sebagai pengatur tata nilai dalam
ilmu pengetahuan, sebagaimana halnya Islam mengatur tata nilai dalam kehidupan.
Bagaimana Islam mengatur tata nilai?
Kita awali dengan pengaturan tata nilai yang paling
tinggi, yaitu mengenai eksistensi Tuhan. Dengan akalnya manusia tahu bahwa Tuhan
itu ada, tetapi hanya dengan akalnya tidak cukup bagi manusia untuk mengetahui
siapa Tuhan itu. Kalau Tuhan tidak memperkenalkan diri maka manusia akan
membuat Tuhan sendiri. Sebagai contoh:
•
Pewayangan : Tuhan itu Sang Hyang Wenang
•
Umat Nabi Ibrahim : Tuhan itu berhala
•
Umat Hindu : Tuhan itu trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, Syiwa
•
Umat Budha : Tuhan itu Sidharta Gautama
•
Umat Kristen : Tuhan itu Yesus
Akhirnya
Islam mengelola tata nilai mengenai eksistensi Tuhan melalui wahyu Allah dalam QS
Thaahaa: 14.
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat
untuk mengingat Aku.
Dengan wahyu
ini maka otomatis semua Tuhan bikinan tadi batal, semua harus mengakui bahwa
Tuhan itu Allah, satu-satunya, tidak ada yang lain.
QS Ali Imran:
83
83. Maka apakah mereka mencari agama
yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa
yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada
Allahlah mereka dikembalikan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Berikutnya kita beranjak ke pengaturan
tata nilai yang lebih kecil. Ada teman SMP yang sekarang tinggal di Surabaya,
sebut namanya A laki-laki beristri. Dia banyak membantu teman. Ia bercerita
beberapa pengalaman hidupnya, salah satunya agak menyerempet bahaya. Ia cerita
punya teman B perempuan bersuami. A pernah melakukan perjalanan semobil dengan
B dan anaknya B untuk urusan tertentu. A menyetir B memangku anaknya, B
menyetir A memangku anaknya B. Perjalanan itu memakan waktu lebih dari 10 jam. Di
saat lelah, mereka beristirahat di mobil. Saya tanyakan pendapat Pak Denny
Hernawan. Itu suami B tahu tidak. Ya. Tidaklah. Kalau saya jadi suami B, marah
saya. Wah, ini sih sudah menabrak, tidak sekedar menyerempet. Akhirnya saya
nasihati A sebagai berikut:
Cinta
itu terdiri atas 2 aspek, yaitu perasaan cinta dan perbuatan cinta. Perasaan
cinta mengikuti hukum kekekalan cinta (Lavoiser: energi): Cinta tidak dapat
diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Cinta hanya dapat berpindah dari
sasaran satu ke sasaran lainnya. Sementara itu perbuatan cinta tidak bebas
dilakukan karena ada regulasi yang mengaturnya. Seseorang bebas memiliki
perasaan cinta pada siapapun, tetapi tidak bebas melakukan perbuatan cinta pada
sembarang orang. Beratnya melanggar aturan, ringannya mengganggu kerukunan
rumah tangga.
Teman saya tersebut mengakui. Kemudian
bertanya, kalau di antara kami tidak ada perasaan apa-apa bagaimana? Islam
sebagai pengelola tata nilai telah menetapkan melalui hadits yang diriwayatkan
At Tabrani, bahwa “Tidak halal bagi seorang istri mengizinkan (orang lain)
memasuki rumahnya, sedang suaminya membencinya. Dan ia tidak boleh keluar rumah
sedang suaminya tidak menyukainya"
(HR. At Tabrani). Jadi dengan atau tanpa perasaan hukumnya sama. Perasaan
tidak dapat mempengaruhi hukum. Hadits tersebut mengatur si B, bagaimana dengan
si A? Perlu dicatat bahwa perbuatan yang
mengakibatkan orang lain bersalah adalah salah, tidak melakukan perbuatan yang
mencegah orang lain bersalah juga salah. Jadi selain amar ma’ruf juga wajib
nahi munkar.
Kalau hukum tergantung ada tidaknya
perasaan, penerapan syariat menjadi sulit. Sebagai ilustrasi, misalkan di
daerah yang diberlakukan syariat Islam seperti di Aceh, dan di situ ada polisi
syariat. Tatkala polisi syariat melihat dua sejoli mojok, diperiksa
identitasnya, kalau suami istri dibiarkan, kalau bukan dibubarkan. Mojok di sini dapat dimaknai mojok ruang
maupun mojok waktu. Misal identitas yang diperiksa menunjukkan bahwa mereka
bukan suami istri dan dibubarkan atau tidaknya tergantung ada tidaknya perasaan, maka
polisi syariat tidak dapat memeriksa
perasaan. Lagi pula kalau suami istri tidak mungkin mojok. Mojok di tempat yang
tidak umum ditempati orang atau mojok di waktu yang sepi orang secara tidak
langsung sudah menunjukkan bahwa pelaku mengakui bahwa itu salah.
Lebih lanjut lagi, sebenarnya manusia
itu tidak dapat mengendalikan perasaan. Oleh sebab itu ketika AA Gym sedang
gencar dakwah manajemen kalbu, ada ulama yang mengkritik karena sesungguhnya
Allahlah yang membolak-balikkan hati manusia. Oleh sebab itu kita diajari
berdoa
Artinya:
"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku
di atas agama-Mu." Doa tersebut dipanjatkan agar diberikan
keteguhan hati dan terus istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Keinginan hati (harapan) tidak selamanya sama dengan
kenyataan yang diterima. Dalam
analisis kepuasan biasanya dilakukan perbandingan antara kenyataan dan harapan.
Semakin dekat keduanya maka indeks kepuasan semakin tinggi. Dalam kehidupan
sehari-hari, kenyataan adalah takdir Allah, sedangkan harapan adalah sesuatu
yang ingin diraih. Harapan berimpit dengan kenyataan ketika ikhlas menerima
takdir. Ketentuan Allah harus kita terima baik dengan
ikhlas maupun terpaksa. Ketika beriman kepada Allah sebagai rabbul aalamiin
berarti mengakui bahwa tidak ada kejadian di muka bumi yang terjadi di luar
kendali Allah. Jadi makna
dari QS Al An’aam:162
dalam konteks beriman kepada Allah sebagai rabbul alamin ayat tersebut berarti
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku mengikuti
ketentuan Allah, Tuhan semesta alam”. Kedudukan Allah sebagai rabb tidak
tergantung pengakuan dan ketundukan manusia. Manusia mau taat atau membangkang,
Allah tetap rabbul alamin.
Sementara itu dalam konteks beriman kepada Allah sebagai ilaah ayat tersebut berarti “Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.
Di sini ilaah
berarti sesuatu yang disembah, sesuatu yang yang menjadi orientasi segala
aktivitas, sesuatu yang aturannya dijadikan dasar beraktivitas.Kedudukan Allah sebagai ilaah tergantung
pada ketundukan manusia. Ketika manusia tidak menaati Allah berarti manusia
tersebut tidak mengilaahkan Allah. Allah tetap rabbul alamin, tetapi tidak
diilaahkan oleh manusia tersebut.
Kejadian yang berlaku
pada diri kita, baik yang kita sukai atau tidak, semuanya itu atas kehendak
Allah, sebagaimana dinyatakan dalam QS Ar
Ra’d: 15.
15. Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh)
segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun
terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.
Boleh jadi kita memandang sesuatu itu
baik padahal itu buruk bagi kita. Boleh jadi kita memandang sesuatu itu buruk
padahal itu baik bagi kita. Yakinlah bahwa apa yang berlaku pada diri kita adalah
yang terbaik untuk kita.Kebahagiaan terjadi ketika kita menyukai apa yang kita
miliki. Kesengsaraan terjadi ketika kita memiliki sesuatu yang baik sementara
kita menginginkan sesuatu yang lain yang menurut kita baik padahal sesungguhnya
buruk bagi kita. Oleh sebab itu cintailah yang Anda miliki, niscaya Anda
memperoleh kebahagiaan. Maksud sama dengan narasi berbeda disampaikan oleh Ebiet
G. Ade dalam syair berikut ini:
Tak perlu engkau
berlari
Mengejar mimpi yang
tak pasti
Hari ini juga mimpi
Maka biarkan dia datang di hatimu
Demikian tausiah singkat ini, terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf bila ada kesalahan.
Wassalaamu’alaikum
wr. wb.