[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Matematika dan Islam Sebagai Pengelola Tata Nilai

Oleh:

Dr. Ir. Setyono, M.Si (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Djuanda)

Assalaamualaikum wr. wb.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat kepada kita sekalian, sehingga dapat menunaikan shalat dhuhur berjamaah. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya, pengikutnya, khususnya kita sekalian, pendengar setia kuliah bakda dhuhur.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Pada suatu hari di tahun 1990-an Prof.  Andi Hakim Nasoetion pernah mengisi halaman opini harian Pikiran Rakyat dengan judul ”Ayabangkongngalagurame” tanpa spasi. Kalau dituliskan Aya bangkong ngalagu rame artinya wajar. Pada musim hujan di blombang (kolam) banyak katak bernyanyi. Kalau dituliskan Aya bangkong ngala gurame artinya sangat langka. Katak yang dapat mengambil (menangkap) gurame itu kalau kataknya besar sedangkan guramenya anakan. Kalau gurame di kolam saya yang bobotnya sudah 7kg tidak ada katak yang berani. Jadi makna kalimat tadi tergantung di mana menempatkan spasi.

Kalau saya bertanya 2+3x5 hasilnya berapa? Semua menjawab 17 tanpa ada perbedaan pendapat. Padahal mungkin saja kalau 2+3 diberi kurung, dikerjakan dulu hasilnya 5, lalu dikalikan 5 hasilnya menjadi 25. Tetapi itu tidak dilakukan. Ini terjadi karena ada hirarki dalam Matematika bahwa + dan – sejajar x dan : sejajar tetapi di atas + dan -, sementara pangkat dan akar sejajar tetapi di atas x dan :. Aturan di Matematika sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi perbedaan pendapat. Adanya hirarki dalam matematika membuat hasil 2+3x5 tanpa kurung tidak ada perbedaan pendapat, karena otomatis 3x5 dikerjakan dulu meskipun dituliskan belakangan. Jadi berbeda dengan ayabangkongngalagurame yang artinya sangat tergantung spasi. Di sini Matematika berperan sebagai pengatur tata nilai dalam ilmu pengetahuan, sebagaimana halnya Islam mengatur tata nilai dalam kehidupan.

Bagaimana Islam mengatur tata nilai?

Kita awali dengan pengaturan tata nilai yang paling tinggi, yaitu mengenai eksistensi Tuhan. Dengan akalnya manusia tahu bahwa Tuhan itu ada, tetapi hanya dengan akalnya tidak cukup bagi manusia untuk mengetahui siapa Tuhan itu. Kalau Tuhan tidak memperkenalkan diri maka manusia akan membuat Tuhan sendiri. Sebagai contoh:

      Pewayangan            : Tuhan itu Sang Hyang Wenang

      Umat Nabi Ibrahim   : Tuhan itu berhala

      Umat Hindu              : Tuhan itu trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, Syiwa

      Umat Budha             : Tuhan itu Sidharta Gautama

      Umat Kristen             : Tuhan itu Yesus

Akhirnya Islam mengelola tata nilai mengenai eksistensi Tuhan melalui wahyu Allah dalam QS Thaahaa: 14.

14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Dengan wahyu ini maka otomatis semua Tuhan bikinan tadi batal, semua harus mengakui bahwa Tuhan itu Allah, satu-satunya, tidak ada yang lain.

QS Ali Imran: 83

83. Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Berikutnya kita beranjak ke pengaturan tata nilai yang lebih kecil. Ada teman SMP yang sekarang tinggal di Surabaya, sebut namanya A laki-laki beristri. Dia banyak membantu teman. Ia bercerita beberapa pengalaman hidupnya, salah satunya agak menyerempet bahaya. Ia cerita punya teman B perempuan bersuami. A pernah melakukan perjalanan semobil dengan B dan anaknya B untuk urusan tertentu. A menyetir B memangku anaknya, B menyetir A memangku anaknya B. Perjalanan itu memakan waktu lebih dari 10 jam. Di saat lelah, mereka beristirahat di mobil. Saya tanyakan pendapat Pak Denny Hernawan. Itu suami B tahu tidak. Ya. Tidaklah. Kalau saya jadi suami B, marah saya. Wah, ini sih sudah menabrak, tidak sekedar menyerempet. Akhirnya saya nasihati A sebagai berikut:

Cinta itu terdiri atas 2 aspek, yaitu perasaan cinta dan perbuatan cinta. Perasaan cinta mengikuti hukum kekekalan cinta (Lavoiser: energi): Cinta tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Cinta hanya dapat berpindah dari sasaran satu ke sasaran lainnya. Sementara itu perbuatan cinta tidak bebas dilakukan karena ada regulasi yang mengaturnya. Seseorang bebas memiliki perasaan cinta pada siapapun, tetapi tidak bebas melakukan perbuatan cinta pada sembarang orang. Beratnya melanggar aturan, ringannya mengganggu kerukunan rumah tangga.

Teman saya tersebut mengakui. Kemudian bertanya, kalau di antara kami tidak ada perasaan apa-apa bagaimana? Islam sebagai pengelola tata nilai telah menetapkan melalui hadits yang diriwayatkan At Tabrani, bahwa “Tidak halal bagi seorang istri mengizinkan (orang lain) memasuki rumahnya, sedang suaminya membencinya. Dan ia tidak boleh keluar rumah sedang suaminya tidak menyukainya"  (HR. At Tabrani). Jadi dengan atau tanpa perasaan hukumnya sama. Perasaan tidak dapat mempengaruhi hukum. Hadits tersebut mengatur si B, bagaimana dengan si A? Perlu dicatat bahwa perbuatan yang mengakibatkan orang lain bersalah adalah salah, tidak melakukan perbuatan yang mencegah orang lain bersalah juga salah. Jadi selain amar ma’ruf juga wajib nahi munkar.

Kalau hukum tergantung ada tidaknya perasaan, penerapan syariat menjadi sulit. Sebagai ilustrasi, misalkan di daerah yang diberlakukan syariat Islam seperti di Aceh, dan di situ ada polisi syariat. Tatkala polisi syariat melihat dua sejoli mojok, diperiksa identitasnya, kalau suami istri dibiarkan, kalau bukan dibubarkan. Mojok di sini dapat dimaknai mojok ruang maupun mojok waktu. Misal identitas yang diperiksa menunjukkan bahwa mereka bukan suami istri dan dibubarkan atau  tidaknya tergantung ada tidaknya perasaan, maka polisi syariat  tidak dapat memeriksa perasaan. Lagi pula kalau suami istri tidak mungkin mojok. Mojok di tempat yang tidak umum ditempati orang atau mojok di waktu yang sepi orang secara tidak langsung sudah menunjukkan bahwa pelaku mengakui bahwa itu salah.

Lebih lanjut lagi, sebenarnya manusia itu tidak dapat mengendalikan perasaan. Oleh sebab itu ketika AA Gym sedang gencar dakwah manajemen kalbu, ada ulama yang mengkritik karena sesungguhnya Allahlah yang membolak-balikkan hati manusia. Oleh sebab itu kita diajari berdoa

Artinya: "Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." Doa tersebut dipanjatkan agar diberikan keteguhan hati dan terus istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Keinginan hati (harapan) tidak selamanya sama dengan kenyataan yang diterima. Dalam analisis kepuasan biasanya dilakukan perbandingan antara kenyataan dan harapan. Semakin dekat keduanya maka indeks kepuasan semakin tinggi. Dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan adalah takdir Allah, sedangkan harapan adalah sesuatu yang ingin diraih. Harapan berimpit dengan kenyataan ketika ikhlas menerima takdir. Ketentuan Allah harus kita terima baik dengan ikhlas maupun terpaksa. Ketika beriman kepada Allah sebagai rabbul aalamiin berarti mengakui bahwa tidak ada kejadian di muka bumi yang terjadi di luar kendali Allah. Jadi makna dari QS Al An’aam:162

 

dalam konteks beriman kepada Allah sebagai rabbul alamin ayat tersebut berarti “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku  mengikuti ketentuan Allah, Tuhan semesta alam”. Kedudukan Allah sebagai rabb tidak tergantung pengakuan dan ketundukan manusia. Manusia mau taat atau membangkang, Allah tetap rabbul alamin.

Sementara itu dalam konteks beriman kepada Allah sebagai ilaah ayat tersebut berarti “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku  hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Di sini ilaah berarti sesuatu yang disembah, sesuatu yang yang menjadi orientasi segala aktivitas, sesuatu yang aturannya dijadikan dasar beraktivitas.Kedudukan Allah sebagai ilaah tergantung pada ketundukan manusia. Ketika manusia tidak menaati Allah berarti manusia tersebut tidak mengilaahkan Allah. Allah tetap rabbul alamin, tetapi tidak diilaahkan oleh manusia tersebut.

Kejadian yang berlaku pada diri kita, baik yang kita sukai atau tidak, semuanya itu atas kehendak Allah, sebagaimana dinyatakan dalam QS Ar Ra’d: 15.

15. Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

Boleh jadi kita memandang sesuatu itu baik padahal itu buruk bagi kita. Boleh jadi kita memandang sesuatu itu buruk padahal itu baik bagi kita. Yakinlah bahwa apa yang berlaku pada diri kita adalah yang terbaik untuk kita.Kebahagiaan terjadi ketika kita menyukai apa yang kita miliki. Kesengsaraan terjadi ketika kita memiliki sesuatu yang baik sementara kita menginginkan sesuatu yang lain yang menurut kita baik padahal sesungguhnya buruk bagi kita. Oleh sebab itu cintailah yang Anda miliki, niscaya Anda memperoleh kebahagiaan. Maksud sama dengan narasi berbeda disampaikan oleh Ebiet G. Ade dalam syair berikut ini:

Tak perlu engkau berlari

Mengejar mimpi yang tak pasti

Hari ini juga mimpi

Maka biarkan dia datang di hatimu

Demikian tausiah singkat ini, terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf bila ada kesalahan.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.